MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id) — Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar resmi menerima estafet sebagai tuan rumah pelaksanaan Dies Natalis ke-66 UNM tahun 2027. FBS akan didampingi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) dalam menyelenggarakan seluruh rangkaian kegiatan.
Serah terima kepanitiaan berlangsung pada Malam Penganugerahan UNM Award 2026 di Ballroom Teater Lantai 3 Menara Pinisi UNM, pada Minggu, 2 Agustus 2026 lalu. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian Dies Natalis ke-65 UNM.
Pada Dies Natalis ke-65, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) bertindak sebagai tuan rumah, sedangkan FBS menjadi fakultas pendamping. Setelah satu tahun berada dalam posisi pendamping, FBS kini menerima tanggung jawab utama untuk mempersiapkan perayaan Dies Natalis ke-66.
Dekan FBS UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum., menegaskan kesiapan fakultasnya menjalankan amanah tersebut. Ia menyatakan bahwa penunjukan FBS sebagai tuan rumah akan dijawab melalui kerja kolektif, perencanaan yang matang, dan penyelenggaraan yang menjunjung tinggi integritas.
Menurut Prof. Anshari, Dies Natalis ke-66 harus menjadi ruang bersama bagi seluruh fakultas dan unit kerja di lingkungan UNM. Pelaksanaannya tidak boleh dikuasai kepentingan pribadi, kelompok, maupun kepentingan lain yang dapat mengganggu kebersamaan sivitas akademika.
“FBS siap menjalankan amanah sebagai tuan rumah Dies Natalis ke-66 UNM. Kami akan melaksanakannya dengan mengedepankan integritas, kebersamaan, dan kekompakan, serta terbebas dari berbagai kepentingan,” tegasnya.
Prof. Anshari berharap FBS dan FISH mampu membangun kolaborasi yang kuat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Keterlibatan seluruh fakultas dan unit kerja juga dinilai penting agar Dies Natalis benar-benar menjadi perayaan milik bersama, bukan sekadar kegiatan kepanitiaan tertentu.
Ia mengakui bahwa berbagai kelemahan dan kekurangan dalam pelaksanaan Dies Natalis ke-65 perlu dijadikan bahan evaluasi. Penyelenggaraan sebelumnya tidak hanya menyisakan keberhasilan, tetapi juga sejumlah catatan yang harus diperbaiki oleh kepanitiaan berikutnya.
Salah satu catatan yang mendapat perhatian adalah munculnya protes dan kritik dalam sejumlah perlombaan. Dinamika tersebut dinilai harus disikapi secara terbuka karena menyangkut kepercayaan peserta terhadap objektivitas penilaian dan kredibilitas penyelenggara.
Prof. Anshari menegaskan bahwa kritik tidak boleh dianggap sebagai gangguan terhadap perayaan. Sebaliknya, kritik harus menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki tata kelola perlombaan agar lebih transparan, profesional, dan berkeadilan.
Karena itu, kepanitiaan Dies Natalis ke-66 akan didorong menyusun mekanisme perlombaan secara lebih terukur. Kriteria penilaian harus disampaikan secara jelas, dewan juri harus dipilih berdasarkan kompetensi, dan proses penetapan pemenang harus dapat dipertanggungjawabkan.
Mekanisme penyampaian keberatan juga perlu disiapkan agar protes tidak berkembang menjadi konflik antarpeserta maupun antarunit kerja. Setiap persoalan harus diselesaikan melalui prosedur yang adil, terbuka, dan mengedepankan kepentingan institusi.
Objektivitas penilaian, menurut Prof. Anshari, menjadi salah satu kunci dalam menjaga kekompakan. Perlombaan yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi dan ekspresi potensi tidak boleh berubah menjadi sumber perpecahan akibat keputusan yang dinilai tidak transparan.
FBS memikul tanggung jawab untuk menghadirkan pelaksanaan Dies Natalis yang lebih baik. Kesuksesan tidak hanya akan diukur dari kemeriahan acara, tetapi juga dari kualitas tata kelola, keadilan kompetisi, keterlibatan sivitas akademika, dan kemampuan panitia menjaga persatuan. (Den/Ans/Why)


























