TAKALAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama dalam membangun daya saing pariwisata nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pelatihan Pariwisata Dasar (PARDAS) Angkatan V Tahun 2026 yang berlangsung pada 16–23 Juli 2026 di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Program ini merupakan hasil orkestrasi kebijakan antara Kementerian Pariwisata, Politeknik Pariwisata Makassar, dan Pemerintah Kabupaten Takalar dalam memperkuat kapasitas aparatur pariwisata di daerah.
Dalam pembukaan kegiatan, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata RI, Ir. Martini Mohamad Paham, MBA, menegaskan bahwa pembangunan pariwisata Indonesia tidak dapat lagi bertumpu pada pembangunan fisik destinasi semata. Menurutnya, keberhasilan sebuah destinasi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.
Hari ini kita tidak sekadar membuka sebuah pelatihan. Hari ini kita sedang menguatkan akar rumput pembangunan pariwisata Indonesia,”tegas Deputi. Ia menilai PARDAS menjadi ruang konsolidasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, praktisi, dan aparatur daerah dalam membangun SDM pariwisata yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab dinamika industri global.
Deputi Martini juga menggarisbawahi bahwa perubahan tren wisata dunia menuntut aparatur pemerintah memiliki kemampuan yang lebih komprehensif. Wisatawan saat ini tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang autentik, pelayanan prima, keberlanjutan, keamanan, kebersihan, dan transformasi digital. Karena itu, peningkatan kapasitas aparatur menjadi bagian dari strategi nasional menuju **Indonesia Emas 2045**.
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, Direktur Politeknik Pariwisata Makassar, Dr. Herry Rachmat Widjaja, M.M.Par., CHE menegaskan bahwa perguruan tinggi vokasi tidak lagi hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai **mitra strategis pemerintah dalam menghasilkan solusi pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan, penelitian terapan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Direktur, penyelenggaraan PARDAS Angkatan V merupakan bagian dari estafet kolaborasi yang telah berlangsung sejak tahun 2022. Setelah dilaksanakan di Maros, Toraja Utara, Gowa, dan Barru, kini Kabupaten Takalar menjadi episentrum penguatan kompetensi aparatur pariwisata Indonesia Timur. Model pelatihan yang mendekatkan proses pembelajaran ke daerah dinilai mampu menjawab kebutuhan riil pembangunan pariwisata berbasis karakteristik lokal.
Tidak hanya menjadi forum pembelajaran, PARDAS juga diposisikan sebagai instrumen konsolidasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Hal tersebut tercermin dari komposisi peserta yang tidak hanya berasal dari staf teknis, tetapi juga melibatkan kepala dinas, sekretaris dinas, kepala bidang, pejabat fungsional, hingga pelaksana teknis dari berbagai provinsi di Indonesia. Kehadiran para pengambil keputusan dalam satu ruang pembelajaran diharapkan mampu mempercepat implementasi kebijakan pengembangan pariwisata di daerah.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Takalar menyambut positif kepercayaan sebagai tuan rumah PARDAS Angkatan V. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Takalar menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pariwisata dan Politeknik Pariwisata Makassar atas kepercayaan tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan PARDAS menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan potensi wisata Takalar sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah dalam pembangunan sektor pariwisata.
Selama delapan hari pelaksanaan, peserta mengikuti pembelajaran daring, pembelajaran klasikal, diskusi kebijakan, studi lapangan, hingga ujian komprehensif dengan total **76 Jam Pelajaran (JP)**. Studi lapangan dilaksanakan di sejumlah destinasi, antara lain **Botanical Garden Denassa**, **Pulau Sanrobengi/Pantai Bintang Galesong**, dan **Pantai Mangindara**, sebagai laboratorium pembelajaran pengelolaan destinasi berbasis potensi lokal.
Berakhirnya PARDAS Angkatan V menandai berakhirnya proses pelatihan, namun menjadi awal dari penguatan jejaring aparatur pariwisata nasional. Lebih dari sekadar menghasilkan sertifikat kompetensi, program ini diharapkan melahirkan aparatur yang mampu menghadirkan kebijakan berbasis data, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mengakselerasi transformasi pariwisata Indonesia menuju destinasi yang berkualitas, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (Rls/Ans/Why)


























