MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)- Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) 2026 menghadirkan dinamika politik kampus yang tidak hanya berbicara soal hasil, tetapi juga tentang sikap dan kedewasaan dalam berdemokrasi. Salah satu sorotan datang dari Prof Sukardi Weda, Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), yang menempatkan persatuan sivitas akademika sebagai pesan utama pasca-pemilihan.
“Bagi saya pribadi, proses pemilihan rektor selama kurang lebih lima bulan ini, mulai dari pendaftaran hingga saat ini, merupakan sebuah pengalaman yang sangat luar biasa. Ini bukan sekadar kompetisi, tapi menjadi ajang silaturahmi yang sangat baik karena saya bisa bertemu kembali dengan teman-teman dan para dosen, saling menyapa, bercengkerama, dan bertukar pikiran,” ujar Prof Sukardi kepada KabarPROFESIANA melalui sambungan telepon, pada Rabu malam (14/1/2026).
Ia menilai seluruh rangkaian Pilrek tersebut memberi banyak pelajaran penting, baik dalam penguatan profesionalisme maupun dalam cara memandang pengambilan kebijakan strategis di lingkungan perguruan tinggi.
“Pengalaman ini benar-benar memberikan pendewasaan diri bagi saya, baik dalam hal profesionalisme maupun dalam cara mengambil kebijakan dan keputusan. Wawasan yang saya dapatkan selama proses ini sangat kaya,” lanjutnya
Terkait hasil pemilihan rektor, Sukardi menegaskan sikap politiknya dengan menghormati keputusan Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas yang menetapkan Prof Jamaluddin Jompa sebagai rektor terpilih.
“MWA telah memberikan dukungan kepada Prof Jamaluddin Jompa. Tentu kita semua harus menghormati keputusan tersebut. Saya secara pribadi memberikan dukungan penuh kepada beliau,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh sivitas akademika Unhas untuk bersatu dan mendukung kepemimpinan baru demi keberlanjutan program-program strategis universitas.
“Harapannya, seluruh sivitas akademika Unhas bisa bersatu padu mendukung kepemimpinan beliau agar program-program unggulan yang telah ditawarkan dapat terlaksana dengan baik. Target kita adalah membawa Unhas menjadi perguruan tinggi dengan reputasi ekselen yang mampu bersaing di tingkat global,” terangn Prof Sukardi.
Menurut Sukardi, rekonsiliasi menjadi agenda penting setelah seluruh tahapan pemilihan selesai.
“Setelah proses ini selesai, sangat penting bagi kita semua untuk melakukan rekonsiliasi. Riak-riak yang muncul selama masa pemilihan adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun sekarang saatnya kita bergandengan tangan kembali,” tegasnya.
Menanggapi kemungkinan keterlibatannya dalam jajaran kepemimpinan Unhas ke depan, Sukardi memilih bersikap realistis dan proporsional.
“Terkait kemungkinan untuk bekerja sama atau membantu di dalam jajaran kepemimpinan nantinya, saya melihat itu sebagai sesuatu yang mengalir saja atau dengan kata lain wait and see. Saya tidak ingin berharap terlalu banyak karena posisi saya saat ini berada di luar Unhas. Namun, jika memang ada kesempatan untuk berkontribusi, tentu akan saya pertimbangkan dengan baik,” pungkasnya.
Sikap Prof Sukardi Weda tersebut mencerminkan wajah politik akademik yang menjunjung etika, penghormatan terhadap keputusan kolektif, serta persatuan sivitas akademika sebagai fondasi utama keberlanjutan Universitas Hasanuddin pasca-Pilrek 2026.
Sekadar diketahui, Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) yang digelar Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas di Kampus Unhas Jakarta, Jalan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026), menetapkan Prof Jamaluddin Jompa sebagai rektor terpilih setelah meraih 23 suara. Sementara itu, pesaingnya Prof Budu memperoleh satu suara, sedangkan Prof Sukardi Weda tidak mendapatkan dukungan suara dari MWA Unhas dalam pemungutan suara tersebut. (Den/Ans/Why)


























