Opini : Ainun Bashirah Syam, S.Pd., M.Pd, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FBS UNM
Didunia yang saat ini serba digital telah memudahkan segala kegiatan manusia. Salah satunya adalah dengan kehadiran AI terjemahan. AI (Artificial Intelligence) Terjemahan bukan lagi sesuatu yang bisa kita perde atkan layak tidaknya. Ia sudah dipakai oleh jutaan orang setiap hari dan tidak akan pergi. Pertanyaanya bukan lagi “haruskah kita menggunakannya?” – melainkan “sudahkah kita menggunakannya dengan benar dan bijak?”
Sayangnya, di lingkungan kampus, jawaban atas pertanyaan itu sering kali mengecewakan. Alih-alih menjadikan AI sebagai alat bantu yang cerdas, namun banyak mahasiswa memperlakukannya seperti mesin fotokopi: teks dimasukkan, hasilnya dikeluarkan, langsung dikumpulkan. Tanpa baca ulang. Tanpa penyuntingan. Tanpa dipertimbangkan konteksnya. Tanpa disaring sama sekali.
“AI terjemahan tidak mengenal konteks- ia mengenal pola. Dan dua hal itu adalah sangat berbeda”.
Inilah akar persoalannya. AI hebat merangkai kata, tetapi ia “buta” terhadap konteks nyata. Hal ini disebabkan oleh AI dalam menerjemahkan hanya ketergantungan pada model statistik dan fasih secara teknis. Akibatnya, istilah hukum, idiom budaya, dan ironi sering diterjemahkan secara harfiah hingga kehilangan makna aslinya. Belum ada algoritma yang cukup peka untuk menangkap bahwa sebuah frasa dalam bahasa sumber sesungguhnya bermakna kebalikan dari terjemahan literalnya. Ironisnya, mahasiswa yang asal salin tanpa memeriksa ulang dan kerap menelan mentah-mentah kesalahan tersebut.
Dampak buruk ini pada akhirnya dapat mengikis integritas dan kualitas capaian akademik. Ketajaman sebuah tugas analisis dapat seketika memudar akibat kekeliruan dalam menerjemahkan satu istilah kunci salah terjemah. Abstrak jurnal yang seharusnya presisi menjadi ambigu karena AI salah menangkap subjek kalimat pasif. Kesalahan-kesalahan kecil ini tidak terlihat oleh mata yang tidak terlatih—dan itulah bahayanya: tersembunyi di balik tampilan yang rapi dan tata bahasa yang tampak benar.
Di sinilah peran manusia menjadi tidak bisa digantikan. Bukan untuk melawan AI, melainkan untuk mengawalnya Bukan lagi sebagai penerjemah dari nol, tetapi sebagai penyaring dan penjaga makna. Mahasiswa perlu menempatkan AI sebagai titik awal, bukan titik akhir: gunakan untuk mempercepat, lalu baca, pahami, dan koreksi hasilnya dengan nalar yang tidak dimiliki mesin mana pun. Langkah filtrasi ini terdengar sederhana, tetapi justru itulah yang paling sering dilewati.
AI terjemahan adalah alat yang kuat—dan seperti semua alat yang kuat, ia berbahaya di tangan yang tidak bertanggung jawab. Memanfaatkannya secara bijak bukan berarti membatasinya, melainkan memastikan bahwa akal manusia tetap berjalan di depan, bukan di belakang, teknologi.


























