Opini : Dr. Aswati Asri, S.Pd., M.Pd., Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Makassar FBS UNM
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya populer, sastra sering kali dianggap hanya sebagai hiburan atau pelengkap dalam kehidupan intelektual. Pandangan ini sebenarnya mengabaikan fungsi sastra yang lebih mendasar. Sastra bukan sekadar cerita; ia adalah ruang penyimpanan ingatan kolektif, di mana manusia mencatat luka, ketidakadilan, harapan, dan perjuangan melawan berbagai bentuk penindasan.
Dalam konteks Indonesia saat ini, fenomena yang menarik adalah semakin banyaknya karya sastra yang mengangkat pengalaman trauma sosial, budaya, dan sejarah. Trauma tidak lagi dianggap sebagai pengalaman individu semata, melainkan sebagai pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui tokoh-tokohnya, novel Indonesia menyuarakan mereka yang selama ini terpinggirkan: perempuan korban kekerasan, masyarakat adat yang kehilangan ruang hidupnya, serta individu-individu yang harus menghadapi sistem sosial yang tidak adil.
Karya-karya seperti Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo, Di Bawah Bayang-Bayang Ode karya Sumiman Udu, dan Kalihara karya Jusiman Dessirua menunjukkan bahwa sastra Indonesia bergerak ke arah yang lebih humanis. Novel-novel tersebut tidak hanya menggambarkan penderitaan tokohnya, tetapi juga menunjukkan bagaimana manusia berusaha mempertahankan martabatnya melalui berbagai bentuk resistensi. Dalam perspektif psikologi sastra, trauma dan resistensi bukanlah dua fenomena yang terpisah, melainkan dua sisi dari pengalaman kemanusiaan yang saling berkaitan. Semakin besar luka yang dialami seseorang, semakin besar pula kemungkinan munculnya upaya untuk bertahan dan melawan.
Sastra memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh data statistik atau laporan ilmiah. Sastra mampu menyajikan pengalaman emosional secara langsung kepada pembaca. Ketika pembaca mengikuti perjalanan seorang tokoh yang mengalami kekerasan, kehilangan, atau pengasingan, pembaca tidak hanya mengetahui peristiwa tersebut, tetapi juga merasakan dampak psikologisnya. Di sinilah sastra berfungsi sebagai medium empati. Ia menghubungkan pengalaman individu dengan kesadaran sosial yang lebih luas.
Oleh karena itu, membaca sastra sebenarnya adalah aktivitas kemanusiaan. Melalui sastra, masyarakat belajar memahami bahwa di balik setiap konflik terdapat manusia yang terluka; di balik setiap ketidakadilan terdapat suara-suara yang selama ini dibungkam. Sastra mengajarkan bahwa penyembuhan tidak selalu hadir melalui pelupaan, melainkan melalui keberanian untuk mengingat dan menceritakan kembali pengalaman yang menyakitkan.
Dalam dunia pendidikan, fungsi ini menjadi semakin penting. Pembelajaran sastra tidak seharusnya berhenti pada identifikasi unsur intrinsik atau analisis struktur cerita semata. Sastra perlu diposisikan sebagai sarana membangun kesadaran kritis, kecerdasan emosional, dan kepekaan sosial peserta didik. Ketika siswa diajak memahami trauma, ketahanan, dan perjuangan tokoh-tokoh sastra, mereka sebenarnya sedang belajar memahami kompleksitas kehidupan manusia.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuannya merawat ingatan kolektif dan menghargai pengalaman kemanusiaan warganya. Dalam hal ini, sastra memiliki peran yang sangat strategis. Sastra menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara luka dan harapan, antara trauma dan rekonsiliasi.


























