MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Menteri Pertanian RI sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., memberikan kuliah umum di Universitas Negeri Makassar dengan tema “Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional yang Berkelanjutan”, Rabu, 3 Juni 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ballroom Teater Lantai 2 Menara Pinisi UNM. Amran tercatat resmi menjabat sebagai Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional.
Kuliah umum ini dihadiri Plt Rektor UNM, Prof. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., jajaran pimpinan universitas, dosen, guru besar, serta mahasiswa. Dalam sambutannya, Prof. Farida menegaskan bahwa UNM memiliki sumber daya akademik yang besar untuk ikut berkontribusi dalam mendukung agenda strategis pemerintah, khususnya ketahanan dan swasembada pangan nasional.
“Kita di UNM memiliki banyak sekali pakar dan guru besar yang sejauh ini dapat memberikan kontribusi keilmuan dalam mendukung program pemerintah, khususnya ketahanan pangan sebagai program prioritas Presiden Prabowo,” ujar Prof. Farida.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Mentan Amran karena telah memberikan kepercayaan kepada UNM untuk terlibat dalam sejumlah program strategis Kementerian Pertanian. Salah satunya adalah program cetak sawah yang telah dijalankan UNM melalui Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Teknik.
“Bapak Menteri, terima kasih karena UNM juga dipercaya untuk ikut serta dalam program cetak sawah. Alhamdulillah telah kita jalankan melalui Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Teknik,” katanya.
Selain itu, Prof. Farida menyebut UNM juga mendapat kepercayaan sebagai mitra riset dalam pengembangan teaching factory berbasis ekonomi black soldier fly di Kalimantan Tengah. Menurutnya, riset tersebut memiliki nilai strategis karena dapat menghubungkan pengelolaan limbah, produksi pupuk organik, dan penguatan ekonomi berbasis inovasi.
“Di FMIPA, Jurusan Biologi juga memiliki kemampuan untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi. Ini menunjukkan bahwa UNM siap hadir dalam agenda besar pangan nasional,” tambahnya.
Sementara itu, Mentan Amran membuka materinya dengan pesan motivasi kepada mahasiswa dan dosen. Ia menekankan bahwa peluang dapat hadir kapan saja dan dari mana saja. Menurutnya, tekanan dalam proses hidup tidak boleh dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai ruang untuk tumbuh secara eksponensial.
“Kesuksesan bisa dimulai dari hal kecil, bahkan dari bisnis sampingan. Tekanan hidup justru bisa menjadi peluang untuk berkembang,” ujar Amran.
Dalam pemaparannya, Amran menyampaikan sejumlah capaian sektor pangan dan pertanian nasional. Ia menyebut, berdasarkan data yang disampaikan dalam kuliah umum tersebut, produksi beras Indonesia berada pada posisi kedua dunia menurut FAO dan diprediksi menjadi nomor satu di ASEAN menurut USDA Rice Outlook.
Amran juga menegaskan bahwa target swasembada pangan yang semula direncanakan dicapai dalam empat tahun kini dipercepat menjadi satu tahun. Ia menyebut sejumlah indikator menunjukkan tren positif, di antaranya Nilai Tukar Petani atau NTP 2026 yang mencapai 127,73, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Selain itu, Amran menyampaikan bahwa PDB pertanian periode 2000–2025 mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun. Ia juga menyebut stok beras nasional mencapai 5,36 juta ton per 2 Juni 2026, yang disebut sebagai stok tertinggi sepanjang sejarah.
Amran turut menyinggung revitalisasi industri pupuk yang menurutnya mampu menghemat hingga Rp524 triliun dan menurunkan harga pupuk sekitar 20 persen tanpa tambahan subsidi APBN. Ia juga menyebut Indonesia telah mengekspor pupuk hingga Rp7 triliun ke Australia, sementara harga domestik turun hingga 20 persen.
Dalam konteks hilirisasi, Amran menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan komoditas yang luar biasa, mulai dari sawit, kelapa, gambir, hingga sirih.
Ia menyebut sawit Indonesia sebagai yang terbesar di dunia dan mendorong agar komoditas tersebut tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi energi, termasuk melalui pengembangan bahan bakar nabati.
“Sawit kita terbesar di dunia. Kita ingin sawit menjadi solar. Kita produsen terbesar, maka harus berani melakukan hilirisasi,” tegasnya.
Amran juga memberi perhatian khusus pada potensi kelapa. Menurutnya, ekspor kelapa Indonesia dapat meningkat signifikan apabila tidak lagi dijual dalam bentuk gelondongan, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah seperti virgin coconut oil atau VCO, coconut milk, serta produk turunan lainnya.
“Sekarang dunia sedang bergeser dari produk hewani ke nabati. Di Eropa, India, dan China, coconut milk dan VCO mulai menjadi pilihan karena dianggap sehat. UNM harus hadir, termasuk dalam inovasi packaging dan pengembangan produknya,” ujar Amran.
Ia menilai potensi ekonomi dari kelapa sangat besar. Bahkan, menurutnya, potensi ekspor baru dari kelapa dapat mencapai ribuan triliun apabila dikelola melalui hilirisasi yang tepat. Hal yang sama juga berlaku pada komoditas gambir dan sirih yang selama ini banyak diproses di luar negeri, terutama India, sebelum dikirim kembali ke pasar Eropa.
“Begitu kayanya negara ini. Gambir dan sirih kita dibeli murah, diproses di India, lalu dikirim ke Eropa. Potensinya sangat besar,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Amran menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar sebagai negara agraris yang berada di garis khatulistiwa. Ketika dunia menghadapi krisis air, pangan, dan energi, Indonesia justru memiliki sumber daya yang melimpah.
“Kita negara agraris, berada di garis khatulistiwa. Di dunia krisis ada tiga: air, pangan, dan energi. Ketika banyak negara mengalami krisis, kita justru memiliki kelimpahan,” tutupnya. (Ikb/Ans/Why)


























