MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)— Program Studi S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menghadirkan pengalaman profesional alumni melalui Kelas Inspirasi Alumni Bahasa Indonesia yang berlangsung di Ruang Seminar Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Gedung DG FBS UNM, Senin, 5 Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus membuka perspektif mahasiswa mengenai luasnya peluang bagi lulusan Bahasa Indonesia untuk berkiprah di berbagai bidang profesional, termasuk dalam lingkungan internasional.
Dua alumni Jurusan Bahasa Indonesia angkatan 1995 FPBS UNM dihadirkan sebagai narasumber, yakni Muslimin Marwas, S.Pd., yang memiliki pengalaman profesional di Australia, dan Abdul Hakim, S.Pd., M.A., dosen Institut Bisnis Kalla. Kehadiran keduanya membawa pengalaman dari ruang profesional yang berbeda sekaligus memperlihatkan bahwa kompetensi Bahasa Indonesia dapat berkembang melampaui batas ruang kelas.
Kegiatan diawali dengan sambutan Koordinator Program Studi S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia FBS UNM, Dr. Usman, S.Pd., M.Pd. Ia menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman nyata alumni ke dalam lingkungan akademik agar mahasiswa memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai pengembangan kompetensi dan dunia profesional.
“Kegiatan ini kami hadirkan agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari ruang perkuliahan, tetapi juga belajar langsung dari pengalaman para alumni yang telah berkiprah di berbagai bidang. Pengalaman alumni menunjukkan bahwa kompetensi Bahasa Indonesia memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Usman.
Menurutnya, keterlibatan alumni juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem akademik yang berkelanjutan. Alumni tidak hanya menjadi bagian dari sejarah sebuah program studi, tetapi dapat kembali ke kampus membawa pengetahuan, jejaring, dan pengalaman untuk dibagikan kepada generasi berikutnya.
“Kami ingin membangun hubungan yang semakin kuat antara program studi, mahasiswa, dan alumni. Alumni memiliki pengalaman nyata yang dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus membuka wawasan mahasiswa tentang peluang karier dan pengembangan kompetensi setelah menyelesaikan pendidikan,” tambahnya.
Pengalaman profesional Muslimin Marwas, S.Pd. di Australia menjadi salah satu perspektif penting dalam Kelas Inspirasi tersebut. Pengalaman bekerja dalam lingkungan yang berbeda secara sosial dan budaya memperlihatkan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal penting ketika seseorang memasuki ruang profesional internasional.
Muslimin menekankan bahwa bekal pendidikan bahasa tidak berhenti pada kemampuan menggunakan bahasa secara baik dan benar. Pendidikan bahasa turut membangun kemampuan komunikasi, kepekaan terhadap konteks, serta kapasitas seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan yang beragam.
“Berada di lingkungan profesional di luar negeri mengajarkan bahwa kemampuan berbahasa saja tidak cukup. Kita juga harus memiliki keberanian berkomunikasi, kemampuan beradaptasi, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar. Latar belakang pendidikan Bahasa Indonesia justru menjadi salah satu modal penting dalam membangun kemampuan tersebut,” ungkap Muslimin.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak memandang latar belakang pendidikan Bahasa Indonesia sebagai batas dalam menentukan pilihan karier. Sebaliknya, kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat dikembangkan untuk memasuki berbagai bidang sesuai dengan kemampuan dan peluang yang tersedia.
“Mahasiswa Bahasa Indonesia jangan membatasi dirinya hanya pada satu bidang pekerjaan. Kompetensi yang kita pelajari dapat dibawa ke banyak ruang profesional. Yang terpenting adalah bagaimana kita terus meningkatkan kapasitas diri dan berani mengambil peluang, termasuk peluang untuk berkiprah di luar negeri,” tuturnya.
Pengalaman Muslimin menjadi gambaran bahwa lulusan Bahasa Indonesia memiliki kemungkinan untuk bergerak dalam ruang profesional yang semakin terbuka. Kemampuan berbahasa dan berkomunikasi dapat menjadi modal yang semakin bernilai ketika dipadukan dengan kemampuan adaptasi, profesionalisme, dan kemauan mengembangkan diri.
Perspektif lain disampaikan Abdul Hakim, S.Pd., M.A. Sebagai akademisi di Institut Bisnis Kalla, ia melihat bahwa kompetensi yang dibangun melalui pendidikan Bahasa Indonesia memiliki relevansi dengan berbagai kebutuhan dunia profesional.
Menurutnya, pembelajaran Bahasa Indonesia pada dasarnya tidak semata-mata mengajarkan keterampilan menggunakan bahasa. Di dalam proses tersebut terdapat kemampuan mengorganisasi gagasan, membangun argumentasi, berpikir sistematis, dan menyampaikan pesan secara efektif.
“Pendidikan Bahasa Indonesia membentuk lebih dari sekadar kemampuan menggunakan bahasa dengan baik. Di dalamnya ada kemampuan berpikir, menyampaikan gagasan, membangun argumentasi, dan berkomunikasi secara efektif. Kompetensi-kompetensi inilah yang tetap relevan ketika kita masuk ke berbagai lingkungan profesional,” kata Abdul Hakim.
Kehadirannya kembali di lingkungan Bahasa Indonesia bersama Muslimin juga menjadi momentum perjumpaan antargenerasi. Pengalaman yang dahulu bermula dari ruang pendidikan yang sama kini dibawa kembali untuk menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa.
“Kembali ke lingkungan Bahasa Indonesia dan berbagi dengan generasi setelah kami tentu memiliki makna tersendiri. Kami berharap mahasiswa hari ini memiliki keberanian untuk melihat peluang yang jauh lebih luas, karena ilmu yang diperoleh di kampus dapat menjadi fondasi untuk berkarya di berbagai bidang,” ujarnya.
Kelas Inspirasi tersebut menempatkan alumni bukan sekadar sebagai lulusan, melainkan sebagai bagian dari sumber belajar. Pengalaman profesional yang mereka bawa mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas dunia kerja sekaligus memberikan gambaran konkret mengenai perjalanan karier setelah meninggalkan kampus.
Pertemuan dua alumni angkatan 1995 dengan mahasiswa generasi hari ini juga memperlihatkan pentingnya kesinambungan hubungan antara alumni dan almamater. Pengalaman yang telah dibangun selama puluhan tahun dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan praktis yang memperkaya pembelajaran mahasiswa. (Den/Ans/Why)


























