Bulukumba, Sulawesi Selatan (KabarPROFESIANA.co.id)– Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Administrasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Universitas Negeri Makassar (UNM), melaksanakan kegiatan pengembangan Safe Youth Space bagi remaja di wilayah kerja Puskesmas Bonto Bangun, Kabupaten Bulukumba. Kegiatan tersebut terlaksana Rabu 14 Oktober 2026 lalu.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan seksual dan reproduksi remaja melalui pendampingan yang melibatkan guru dan tenaga kesehatan sebagai mitra utama dalam menciptakan lingkungan yang aman, edukatif, dan mendukung tumbuh kembang remaja
Kegiatan PKM ini dipimpin oleh Dr. Andi Nurzakiah Amin, M.Kes selaku ketua tim pengabdi bersama 2 dosen yang masuk dalam TIM PKM dan mahasiswa Program Studi Administrasi Kesehatan FIKK UNM.
Program ini melibatkan perwakilan dari 15 sekolah yang terdiri atas Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di wilayah kerja Puskesmas Bonto Bangun. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya promosi kesehatan reproduksi remaja secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi terkait kesehatan seksual dan reproduksi remaja, pubertas, pencegahan infeksi menular seksual, HIV/AIDS, pencegahan kekerasan seksual, relasi sehat berbasis consent, serta literasi digital kesehatan. Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi pendampingan remaja melalui pendekatan peer education yang memungkinkan remaja belajar dan berbagi informasi dengan sesama teman sebaya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi kelompok, simulasi kasus, role play, dan penyusunan rencana aksi yang melibatkan guru, tenaga kesehatan, serta perwakilan siswa. Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan Safe Youth Space sebagai ruang aman yang memungkinkan remaja berdiskusi, bertanya, dan memperoleh informasi yang benar terkait kesehatan reproduksi tanpa rasa takut terhadap stigma maupun diskriminasi.
Guru dan tenaga kesehatan yang terlibat menyambut baik program tersebut. Mereka menilai bahwa kolaborasi antara sekolah, puskesmas, dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam memperkuat perlindungan serta pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja. Kehadiran ruang aman bagi remaja dinilai penting untuk membantu mereka menghadapi berbagai tantangan perkembangan pada masa transisi menuju dewasa.
Sementara itu, Ketua Tim PKM, Dr. Andi Nurzakiah Amin, M.Kes, menjelaskan bahwa program Safe Youth Space merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan remaja melalui pendekatan berbasis komunitas.
“Melalui pendampingan guru dan tenaga kesehatan, kami berharap remaja memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi kesehatan seksual dan reproduksi yang benar. Program Safe Youth Space juga diharapkan mampu melahirkan fasilitator sebaya yang dapat menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah maupun komunitasnya,” ujar Dr. Andi Nurzakiah Amin, M.Kes.
Program Safe Youth Space mengintegrasikan ruang aman fisik dan digital sebagai sarana edukasi berkelanjutan. Selain pertemuan tatap muka, peserta juga didorong memanfaatkan platform digital untuk berbagi informasi kesehatan, mengakses materi edukasi, dan memperluas jangkauan kampanye literasi kesehatan reproduksi remaja. Melalui pendekatan tersebut, program diharapkan mampu meningkatkan keterhubungan remaja dengan layanan kesehatan ramah remaja yang tersedia di puskesmas.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari 15 sekolah mitra. Para guru, tenaga kesehatan, dan siswa aktif berpartisipasi dalam diskusi serta penyusunan strategi keberlanjutan program di sekolah masing-masing.
Diharapkan, Safe Youth Space dapat menjadi model kolaborasi antara sekolah, puskesmas, dan perguruan tinggi dalam membangun generasi muda yang sehat, berpengetahuan, dan mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan reproduksinya.
Kegiatan tersebut sekaligus merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, melalui transfer pengetahuan, penguatan kapasitas sekolah dan tenaga kesehatan, serta pemberdayaan remaja sebagai agen perubahan dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan mendukung perkembangan generasi muda. (Rls/Why/Ans)















