BANDA NAIRA, MALUKU (Kabar PROFESIANA.co.id) — Kecamatan Banda Naira atau Banda Neira Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku pada Tanggal 31 OKTOBER 2026 gelar PKM International untuk menjadikan Banda Naira sebagai Etalase Wisata Bahari kelas dunia, sehingga UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon Bersama perguruan Tinggi Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar, UBN, UIN Alauddin Makassar, Universitas Science Malaysia merumuskan naskah akademik sebagai dasar untuk menjadikan Banda Naira naik kelas jadi Ekoteologi wisata Bahari kelas dunia. Dalam upaya merespons tantangan hegemoni politik global dan transisi digital di kawasan pesisir, Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Muthalib Sangadji Ambon menegaskan komitmennya dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional, Rektor UIN A.M. Sangadji Ambon, Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., menyampaikan gagasan strategis mengenai “Pembangunan Ekoteologi Wisata Bahari pada Masyarakat Multikultural” di Gedung Makatita, Banda Neira, Sabtu (31/10/2026). Seminar dan kolaborasi internasional yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIT ini melibatkan konsorsium Perguruan Tinggi Kawasan Timur Indonesia (PT KTI), di antaranya UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, UIN Alauddin Makassar, serta Politeknik Pariwisata Makassar.
Ekoteologi Bahari: Menghubungkan Keimanan, Laut, dan Humanisme.
Dalam paparan gagasannya, Prof. Dr. Abidin Wakano menekankan pentingnya pendekatan Ekoteologi Bahari sebagai pijakan moral dan epistemologis dalam pengelolaan pariwisata kepulauan. Menurutnya, laut Banda bukan sekadar komoditas ekonomi atau bentang alam eksotis, melainkan ruang sakral keharmatan ciptaan Tuhan yang menuntut etika konservasi dan spiritualitas pelestarian.
“Pembangunan pariwisata di wilayah kepulauan seperti Banda Neira tidak boleh hanya berorientasi pada ekspansi kapital semata. Ekoteologi bahari hadir untuk menyatukan nalar keagamaan, kearifan lokal bahari, dan kelestarian ekosistem. Kita harus membangun pariwisata yang memuliakan laut sekaligus memperkuat martabat manusia di atasnya,” ujar Prof. Abidin Wakano.
Gagasan ini menjadi krusial mengingat Banda Neira memiliki sejarah panjang sebagai simpul multikulturalisme global, tempat bertemunya berbagai etnis, budaya, dan tradisi perdagangan dunia sejak abad pertengahan. Navigasi Hegemoni Global dan Kesiapan Era Kecerdasan Buatan (AI).
Lebih jauh, Prof. Abidin Wakano menggarisbawahi bahwa pembangunan pariwisata Banda saat ini berada di tengah pusaran hegemoni politik global dan percepatan teknologi digital. Untuk itu, masyarakat lokal dituntut memiliki kecakapan adaptasi sosial yang tangguh agar tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.
“Membangun pariwisata Banda di tengah hegemoni politik global memerlukan ketahanan kultural dan kecakapan beradaptasi dengan perubahan sosial. Masyarakat harus divalidasi dan dididik agar tidak gagap, melainkan mampu bertahan dan berdaya saing tinggi di era Artificial Intelligence (AI). Teknologi AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat literasi ekologi, tata kelola destinasi, dan promosi warisan budaya, tanpa mengikis identitas kebudayaan kita,” tegasnya.
Kolaborasi Perguruan Tinggi di PKM International sebagai wujud Pengabdian Ilmu untuk Bumi Banda Rangkaian PKM Internasional ini diposisikan sebagai langkah konkrit perguruan tinggi di Kawasan Timur Indonesia dalam membumikan riset dan keilmuan secara langsung bagi kesejahteraan masyarakat kepulauan.
Gagasan kolaborasi antara UIN A.M. Sangadji Ambon, UIN Alauddin Makassar, dan Poltekpar Makassar diharapkan melahirkan roadmap pembangunan pariwisata berkelanjutan yang memadukan keahlian manajemen pariwisata, pendekatan sosiologi-keagamaan, serta pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas multikultural.
Kata Rektor UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon merupakan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri terkemuka di Maluku yang berfokus pada integrasi ilmu, kearifan lokal kepulauan, nilai-nilai keislaman inklusif, dan pengembangan masyarakat pesisir serta multikultural di Kawasan Timur Indonesia demi bangsa yang kokoh dan berdikari di kawasan Timur Indonesia. (Rls/Why/Ans)















