MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali melahirkan doktor baru. Suriana, S.Pd., M.Pd. resmi menyandang gelar doktor setelah mengikuti Ujian Disertasi sekaligus Yudisium Doktor di Gedung DA Lantai 2 FBS UNM, Kamis, 9 Juli 2026.
Suriana berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 2 tahun 11 bulan. Ia meraih nilai ujian 94,5 dengan nilai A serta mencatatkan indeks prestasi kumulatif atau IPK sempurna 4,0. dan predikat kelulusan pujian atau cumlaude. Capaian tersebut sekaligus menempatkan Suriana sebagai doktor ke-128 pada Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa FBS UNM.
Dalam disertasinya, Suriana mengangkat judul Pengembangan Model Pembelajaran Membaca Evaluatif-Reflektif Terintegrasi Keterampilan Abad Ke-21 dengan Pendekatan Peeragogy bagi Peserta Didik SMP. Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan model pembelajaran membaca yang tidak hanya menekankan kemampuan memahami teks, tetapi juga membangun daya evaluatif, reflektif, kolaboratif, dan kritis peserta didik sesuai tuntutan pembelajaran abad ke-21.
Promotor sekaligus ketua sidang, Prof. Dr. Anshari, M.Hum., menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan Suriana menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Menurutnya, capaian tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi tim pembimbing karena telah mengantar Suriana sampai pada tahap akhir pendidikan S-3.
“Alhamdulillah, ini suatu kebahagiaan, terutama bagi kami pembimbing, promotor, dan kopromotor yang telah mengantar Suriana mendapatkan gelar doktor,” ujar Prof. Anshari.
Ia menegaskan, gelar doktor yang diraih Suriana bukan sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Seluruh proses akademik, kata dia, dilakukan secara ketat, benar, dan terjamin mutunya.
“Ini tidak diperoleh dengan mudah. Di lembaga pendidikan ini, kami betul-betul melakukan proses dengan benar dan terjamin mutunya. Karena lembaga pendidikan disorot oleh banyak pihak, kita tidak ingin menghasilkan doktor abal-abal, tetapi doktor dengan ijazah asli dan proses akademik yang sah,” tegasnya.
Prof. Anshari juga berharap Suriana dapat menjadi teladan bagi para guru, khususnya di lingkungan sekolah tempatnya mengabdi. Menurutnya, kehadiran seorang doktor dari kalangan pendidik sekolah dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru lain untuk melanjutkan studi.
“Jadikan gelar doktor ini sebagai cermin bagi guru di sekolah. Jadilah motivasi bagi guru-guru di sana, bahwa S-3 tidak sesulit yang dibayangkan. Ketika kita sekolah, insyaallah selalu ada rezeki,” katanya.
Rektor Kalla Institute, Syamril, S.T., M.Pd., turut memberikan testimoni atas capaian Suriana. Ia mengaku teringat ketika Suriana meminta izin melanjutkan studi doktor sekitar tiga tahun lalu. Menurutnya, keputusan tersebut kini membuahkan hasil yang membanggakan.
“Kita bersyukur. Saya teringat tiga tahun lalu saat beliau izin kuliah, tentu dengan harapan apa yang ditekuni bisa bermanfaat di sekolah dan masyarakat luas. Ini merupakan contoh luar biasa sebagai kepala sekolah di Athirah. Semoga berkah ilmunya,” ujar Syamril.
Sementara itu, Dr. Suriana, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa gelar doktor yang diraihnya bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk terus berkarya dan memberi manfaat.
“Gelar yang saya sandang saat ini bukan akhir. Ini saatnya bertanggung jawab, ini awal untuk berkarya, dan ini tugas mulia,” ungkap Suriana.
Ia juga menyampaikan bahwa selama hampir tiga tahun menempuh pendidikan doktoral, dirinya memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang memperkaya cara pandangnya sebagai pendidik.
“Selama tiga tahun menuntut ilmu di S-3, menurut saya ilmu sangat berkembang, banyak hal yang tidak kita dapatkan di sekolah. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan memberi support,” katanya. (Ikb/Ans/Why)


























