MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., menegaskan bahwa teknologi digital dan artificial intelligence atau AI tidak bisa menggantikan peran guru. Teknologi, kata dia, hanya boleh ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan sebagai pusat pendidikan itu sendiri.
Pandangan itu disampaikan Prof Andis, sapaan akrabnya, dalam International Joint Seminar Unismuh Makassar-UPSI Malaysia bertema “Transformasi Masa Depan Pendidikan: Integrasi Eksakta, Sosial dan Kurikulum” di Hall I-GIFt Unismuh Makassar, Selasa, 7 Juli 2026. Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan delegasi Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, ke Unismuh Makassar pada 6–9 Juli 2026.
Dalam paparannya, Prof Andis menempatkan masa depan pendidikan pada titik temu antara teknologi, budaya, dan nilai kemanusiaan. Ia mengatakan, pendidikan tidak cukup hanya mengejar kecanggihan perangkat digital, tetapi harus tetap menjaga relasi manusiawi antara guru dan peserta didik.
“Era digital ini kita harus meletakkan digital itu sebagai alat. Jadi jangan ada dulu alat digital baru kita mencari tujuan pembelajaran, tidak boleh,” ujar Prof Andis.
Menurut Prof Andis, guru tetap menjadi figur sentral dalam pendidikan karena memiliki kedekatan emosional, sosial, dan pedagogis dengan murid. Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan pendamping yang mengenal kebutuhan peserta didik, memberi refleksi, dan membangun ruang belajar yang aman serta bermakna.
Ia menegaskan, teknologi digital memang dapat membuka akses pengetahuan dan mempercepat pembelajaran. Namun, teknologi tidak otomatis membuat pendidikan menjadi lebih manusiawi jika tidak diarahkan oleh tujuan pembelajaran yang jelas dan nilai-nilai etik yang kuat.
Prof Andis kemudian memperkenalkan tiga nilai utama dalam kultur Bugis-Makassar, yakni sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi. Tiga nilai itu, kata dia, dapat menjadi fondasi etik bagi guru dalam menghadapi perubahan pendidikan di era AI.
“Sipakatau itu artinya memanusiakan manusia. Kemudian ada sipakainge, saling mengingatkan. Dan yang ketiga ada sipakalebbi, saling menghormati, saling menghargai, saling mengapresiasi,” kata Prof Andis.
Ia menjelaskan, sipakatau mengajarkan guru untuk memperlakukan peserta didik sebagai manusia utuh, bukan sekadar objek evaluasi. Sipakainge menegaskan fungsi guru sebagai pemberi arah, koreksi, dan pengingat. Adapun sipakalebbi menempatkan relasi pendidikan dalam suasana saling menghargai dan memuliakan.
Dalam konteks itu, Prof Andis menilai teknologi justru dapat digunakan untuk memperkuat nilai-nilai tersebut. Teknologi dapat membantu guru memahami kebutuhan murid, memberi umpan balik yang lebih cepat, dan menciptakan pembelajaran yang inklusif, selama digunakan secara bijak.
“Guru sejati bukan yang paling cepat memakai teknologi, tetapi yang paling bijak memakai teknologi untuk memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan,” kata Prof Andis.
Prof Andis juga menyinggung tantangan global kebutuhan guru. Ia menyebut dunia membutuhkan sekitar 44 juta guru hingga tahun 2030. Karena itu, lembaga pendidikan tenaga kependidikan perlu menyiapkan calon guru yang profesional, beretika, adaptif, dan mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan orientasi kemanusiaan.
Seminar internasional tersebut dibuka oleh Wakil Rektor IV Unismuh Makassar, Dr. Burhanuddin, yang hadir mewakili Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU. Dalam sambutannya, Burhanuddin menyampaikan permohonan maaf Rektor karena berhalangan hadir akibat agenda lain pada waktu yang sama.
“Unismuh Makassar menjadi suatu kehormatan karena kita dikunjungi oleh pakar dari UPSI. Ini tanda-tanda baik bagi Unismuh Makassar,” kata Burhanuddin.
Burhanuddin mengatakan, kunjungan akademisi UPSI Malaysia sejalan dengan visi Unismuh Makassar untuk memperkuat daya saing internasional. Sejak tahun akademik 2024–2028, kata dia, Rektor Unismuh Makassar telah mencanangkan arah pengembangan kampus menuju perguruan tinggi bereputasi internasional.
Ia menyebut Unismuh Makassar dalam tiga tahun terakhir mulai memasuki ruang daya saing internasional. Burhanuddin juga menyampaikan bahwa Unismuh Makassar memiliki 830 dosen, dengan 320 dosen berkualifikasi doktor atau sekitar 39 persen dari total dosen tetap.
Menurut Burhanuddin, Unismuh Makassar sedang mendorong peningkatan kualifikasi akademik dosen. Salah satu program yang disiapkan ialah dukungan studi doktoral, terutama bagi dosen muda berusia 35 tahun ke bawah yang akan diarahkan melanjutkan studi di bidang pendidikan, termasuk peluang ke UPSI Malaysia.
“Teman-teman di sini yang berasal dari fakultas kependidikan, boleh menancapkan niat mulai dari sekarang untuk lanjut di UPSI,” ujar Burhanuddin.
Burhanuddin menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi kunjungan balasan setelah rombongan Unismuh Makassar sebelumnya berkunjung ke UPSI Malaysia dalam kegiatan ilmiah. Ia berharap kerja sama kedua kampus tidak berhenti pada seminar bersama, tetapi berlanjut dalam kolaborasi riset, publikasi, pertukaran pelajar, dan penguatan akreditasi.
“Bukan cuma joint seminar yang kami harapkan. Mungkin ada kolaborasi riset, kolaborasi publikasi, kemudian pertukaran pelajar,” kata Burhanuddin.
Seminar dipandu oleh Dr. Salwa, Ketua Program Studi S3 Pendidikan Unismuh Makassar. Dalam pengantar sesi, Salwa menyampaikan bahwa tema seminar relevan dengan dinamika pendidikan abad ke-21 karena mempertemukan bidang eksakta, sains, teknologi, kurikulum, dan ilmu sosial.
Selain Prof Andis, seminar menghadirkan tiga akademisi UPSI Malaysia, yakni Prof. Madya Dr. Norazilawati binti Abdullah, Prof. Madya Dr. Siti Rahaimah binti Ali, dan Prof. Madya Dr. Norwaliza binti Abdul Wahab. Ketiganya membahas pendidikan masa depan dari perspektif kurikulum, numerasi, teknologi, dan kemanusiaan.
Prof. Madya Dr. Norazilawati binti Abdullah membahas transformasi kurikulum, pedagogi, sains, teknologi, dan asesmen. Ia menekankan bahwa perubahan pendidikan tidak boleh berhenti pada perubahan kosmetik, seperti mengganti istilah tanpa mengubah ekosistem pembelajaran.
Norazilawati mengatakan, transformasi pendidikan perlu dirancang secara utuh sejak awal. Kurikulum, konten, pedagogi, teknologi, asesmen, dan kebutuhan sosial peserta didik harus saling terhubung agar pembelajaran benar-benar bermakna.
“Setiap kali kita mengajar, benda pertama adalah dari segi objektif yang ingin dicapai. Yang lain itu, contohnya pedagogi, ialah metode ataupun keadaan penyampaian,” kata Norazilawati.
Menurut Norazilawati, guru perlu memulai pembelajaran dari objektif atau capaian yang ingin dicapai. Setelah itu, guru memilih metode, teknologi, dan strategi asesmen yang paling sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran sains berbasis inkuiri. Anak-anak dan remaja masa kini, kata dia, lebih mudah tertarik jika pembelajaran menghadirkan eksperimen, pembuktian, dan ruang untuk bertanya.
Norazilawati mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara kognitif, tetapi miskin nilai dan etika. Menurut dia, semua guru bertanggung jawab menanamkan nilai baik, bukan hanya guru agama atau guru moral.
Ia mencontohkan, guru perlu membiasakan peserta didik untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak berbicara kasar, dan tidak melakukan perundungan. Nilai-nilai itu, menurut Norazilawati, harus hadir dalam semua mata pelajaran karena pendidikan bertugas membentuk manusia secara utuh.
Sementara itu, Prof. Madya Dr. Siti Rahaimah binti Ali membawakan perspektif pendidikan matematika dan numerasi. Ia membuka paparannya dengan bertanya kepada peserta tentang kesan mereka terhadap matematika, lalu menyoroti masih kuatnya anggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan.
Menurut Siti Rahaimah, ketakutan terhadap matematika perlu dikurangi melalui pembelajaran yang menyenangkan. Numerasi, kata dia, harus dikenalkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari agar peserta didik tidak merasa berjarak dengan konsep matematika.
“Matematika ini kita kurangkan jarak takut dan seram itu dengan menghasilkan sesuatu yang lebih fun, lebih seronok, dan lebih meresap ke jiwa pelajar,” kata Siti Rahaimah.
Ia menjelaskan, pengalaman panjangnya di bidang pendidikan mendorongnya mengembangkan model pembelajaran numerasi secara bertahap. Model tersebut memungkinkan peserta didik menilai tingkat pemahamannya sendiri, terutama pada topik yang kerap dianggap sulit, seperti pecahan.
Siti Rahaimah juga memaparkan pengembangan media pembelajaran berbasis gim melalui telepon genggam. Menurut dia, anak-anak dan orang dewasa sangat dekat dengan gawai, sehingga pendidik perlu mengarahkan kebiasaan itu menjadi aktivitas belajar yang bermakna.
Ia mengatakan, gim edukatif dapat menjadi pintu masuk untuk membuat matematika lebih dekat dengan dunia anak. Dengan cara itu, teknologi tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga alat untuk menanamkan konsep numerasi.
Adapun Prof. Madya Dr. Norwaliza binti Abdul Wahab menyoroti integrasi sains, teknologi, sosial, dan kemanusiaan dalam pendidikan masa depan. Ia mengatakan, empat unsur tersebut tidak boleh dipisahkan karena pendidikan abad ke-21 harus menyiapkan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat yang kompleks.
Menurut Norwaliza, sains penting untuk daya saing global, teknologi penting untuk mendukung pembelajaran, sosial penting untuk membangun kehidupan bersama, dan kemanusiaan penting agar pendidikan tidak kehilangan nilai. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh menghasilkan peserta didik yang cakap teknologi, tetapi kehilangan empati.
“Walaupun kita menggunakan teknologi, jangan lupa diinfuskan nilai dalam setiap pengajaran, walaupun menggunakan artificial intelligence,” kata Norwaliza.
Norwaliza mengatakan, AI dapat membantu mempercepat akses informasi dan penyusunan bahan belajar. Namun, AI tidak memiliki dimensi kemanusiaan, sehingga guru dan dosen tetap harus menanamkan etika, empati, dan tanggung jawab akademik.
Ia juga menyoroti penggunaan AI dalam tugas mahasiswa. Menurut Norwaliza, mahasiswa boleh menggunakan AI sebagai panduan, tetapi tidak etis jika menyerahkan sepenuhnya hasil kerja AI tanpa memahami dan mempertanggungjawabkan isinya.
“Kalau mau pakai AI boleh, tapi beretika. Maksudnya kita minta AI itu untuk bagi kita bimbingan, guidance, tetapi bukannya 100 persen tugas menggunakan AI,” ujarnya.
Norwaliza juga mengingatkan pentingnya melihat latar belakang sosial ekonomi peserta didik. Mahasiswa atau siswa dengan perangkat dan akses teknologi lebih baik dapat menghasilkan tugas digital yang lebih rapi, sedangkan peserta didik dengan keterbatasan perangkat mungkin menghasilkan produk yang berbeda kualitasnya.
Menurut Norwaliza, penilaian pendidikan tidak boleh hanya bertumpu pada produk akhir. Dosen dan guru perlu melihat proses, usaha, konteks sosial, dan kemampuan peserta didik menjelaskan gagasannya.
Ia juga menekankan pentingnya budaya lokal dalam pendidikan. Teknologi secanggih apa pun, kata dia, tidak boleh membuat peserta didik kehilangan identitas budaya sebagai orang Makassar, Bugis, Melayu, atau bagian dari masyarakat lokal lainnya.
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta, Syamsul Bakri, dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Unismuh, bertanya tentang cara mengubah pola pikir mahasiswa agar tidak hanya datang kuliah, mengerjakan tugas, dan lulus sebagai sarjana biasa. Pertanyaan itu dikaitkan dengan kebutuhan dunia kerja yang menuntut penguasaan sains, teknologi, AI, komunikasi, dan jejaring.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Norwaliza mengatakan dosen perlu memahami latar belakang mahasiswa sebelum menuntut capaian tinggi. Sebagian mahasiswa, menurut dia, mungkin belum memiliki dasar teknologi dan akademik yang kuat karena keterbatasan pengalaman sebelumnya.
Ia menyarankan dosen merancang tugas secara bertahap dengan pendekatan scaffolding. Pada tahap awal, dosen dapat memperkuat pemahaman dasar, lalu menaikkan level tugas menuju analisis, sintesis, penciptaan, dan inovasi.
“Kita bina bangunan, kalau asasnya lemah, dia akan runtuh,” kata Norwaliza.
Di akhir sesi, moderator seminar, Dr. Salwa, merangkum bahwa teknologi dan AI dapat menghadirkan banyak kemudahan, tetapi tidak dapat menggantikan sosok guru atau dosen yang mampu memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan peserta didik. Ia juga menekankan bahwa guru tidak boleh hanya menjadi penyampai materi, tetapi harus memberi dampak bagi siswa.
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kerja sama akademik Unismuh Makassar dan UPSI Malaysia. Melalui seminar tersebut, kedua perguruan tinggi diharapkan memperluas kolaborasi dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kurikulum, pertukaran mahasiswa, dan inovasi pembelajaran berbasis nilai kemanusiaan. (Rls/Ans/Why)


























