TAKALAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Direktur Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar membuka secara resmi kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Bontolebang 2, Kabupaten Takalar, Minggu (24/5/2026). Kegiatan yang dilaksanakan melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) tersebut menjadi bentuk nyata komitmen Poltekpar Makassar dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan gizi masyarakat.
Sebanyak 35 peserta dari berbagai SPPG di Kabupaten Takalar mengikuti pelatihan dengan antusias. Kegiatan ini menghadirkan materi terkait HACCP, SSOP, manajemen dapur, hingga proses produksi makanan yang aman dan higienis. Peserta juga dibekali praktik langsung pengolahan makanan bergizi sesuai standar pelayanan dapur skala besar.
Dalam pelaksanaannya, Poltekpar Makassar menggandeng Badan Pengurus Daerah (BPD) Indonesian Chef Association (ICA) Sulawesi Selatan. Ketua BPD ICA Sulsel, Chef Ramli Hajar, hadir sebagai narasumber praktik pengolahan makanan dan manajemen dapur produksi massal untuk kebutuhan Program MBG.
Menurut Chef Ramli Hajar, memasak dalam jumlah besar tidak hanya membutuhkan keterampilan memasak, tetapi juga penguasaan manajemen proses agar kualitas makanan tetap terjaga. “Dalam memasak jumlah besar, setiap proses harus diperhatikan, mulai dari penggunaan alat, pengaturan api, sampai tingkat kematangan makanan agar hasilnya tetap aman dan layak disajikan,” jelasnya di hadapan peserta pelatihan.
Sesi praktik menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta. Dalam sesi tersebut, peserta diajak langsung mempraktikkan teknik pengolahan telur dan ayam secara higienis, mulai dari persiapan bahan, penggunaan alat masak, pengaturan proses memasak, hingga memastikan makanan matang sempurna dan aman dikonsumsi.
Selain praktik memasak, peserta juga aktif berdiskusi mengenai berbagai kendala yang sering dihadapi di dapur pelayanan MBG, seperti pembagian tugas kerja, pengaturan waktu produksi, penggunaan peralatan, hingga cara menjaga kualitas makanan meskipun diproduksi dalam jumlah besar. Suasana pelatihan berlangsung interaktif dengan berbagai simulasi kondisi kerja nyata di dapur pelayanan gizi.
Muh. Musawantoro, salah satu pemateri, menekankan pentingnya pengawasan pada setiap tahapan produksi makanan. Menurutnya, keamanan pangan harus menjadi perhatian utama agar makanan yang diproduksi tetap aman hingga diterima masyarakat. “Kalau kita bicara HACCP, intinya kita harus tahu di mana saja makanan itu bisa berisiko. Mulai dari bahan datang, proses memasak, sampai makanan dibagikan, semuanya harus diperhatikan agar makanan tetap aman untuk dikonsumsi,” jelasnya.
Salah satu peserta, Saddan, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari di dapur MBG. Ia menilai pelatihan tersebut sangat membantu pekerja dapur dalam memahami standar pengolahan makanan yang benar dan aman.
Peserta lainnya juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Menurut mereka, kolaborasi antara dunia pendidikan vokasi dan organisasi profesi chef seperti ICA memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Selain meningkatkan keterampilan teknis, pelatihan ini juga dinilai mampu membangun kesadaran pentingnya pelayanan gizi yang aman, sehat, dan berkualitas bagi masyarakat penerima manfaat Program MBG.
Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta mendapatkan sertifikat dan souvenir pelatihan. Melalui kolaborasi Politeknik Pariwisata Makassar dan BPD ICA Sulawesi Selatan ini, diharapkan kualitas pelayanan pemenuhan gizi dalam Program MBG di Kabupaten Takalar dapat berjalan semakin profesional, aman, dan berkualitas. (Rls/Why/Ans)















