Refleksi Iduladha dan Krisis Bahasa Perdamaian di Tengah Bayang-Bayang Geng Motor 

- Penulis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini : Deni Indrawan, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Makassar FBS UNM

 

Iduladha selalu menghadirkan ruang refleksi tentang makna pengorbanan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap kehidupan. Di tengah suasana hari raya yang mengajarkan kepedulian sosial dan persaudaraan, masyarakat diajak untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Kurban bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan simbol kesediaan manusia menundukkan ego dan mengutamakan kemaslahatan yang lebih besar. Karena itu, Iduladha sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dalam menjaga kehidupan sosial yang aman, damai, dan bermartabat.

Renungan tersebut terasa semakin relevan ketika beberapa hari setelah Iduladha 1447 Hijriah diperingati pada 27 Mei 2026, Detik.com melaporkan bahwa aparat kepolisian mengamankan 20 pemuda yang diduga hendak terlibat dalam aksi tawuran di Kota Makassar. Peristiwa itu menambah daftar keresahan masyarakat terhadap maraknya aktivitas geng motor yang dalam beberapa waktu terakhir kerap mengganggu rasa aman warga. Meskipun berhasil dicegah sebelum menimbulkan korban, kejadian tersebut mengingatkan bahwa di balik berbagai upaya penegakan hukum, masih terdapat persoalan sosial yang memerlukan perhatian lebih mendalam. Fenomena ini tidak hanya berbicara tentang pelanggaran hukum, tetapi juga tentang bahasa yang membentuk cara generasi muda memahami keberanian, pengakuan sosial, dan relasi mereka dengan sesama.

Iduladha pada hakikatnya mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada kemampuannya menguasai atau menaklukkan orang lain, melainkan pada kemampuannya mengendalikan diri. Dalam kisah kurban, Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa ketaatan, kesabaran, dan pengorbanan merupakan jalan untuk memuliakan kehidupan. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi berbagai bentuk kekerasan yang mengancam ruang publik. Sebab, setiap tindakan kekerasan pada dasarnya lahir dari kegagalan menempatkan martabat manusia sebagai nilai utama dalam kehidupan bersama.

Selama ini, fenomena geng motor cenderung dipahami dalam kerangka keamanan dan ketertiban umum. Karena itu, solusi yang sering dikedepankan adalah patroli, operasi kepolisian, dan penegakan hukum yang lebih tegas. Langkah-langkah tersebut tentu penting dan tidak dapat ditawar. Namun, jika persoalan ini hanya dipahami sebagai masalah kriminalitas, kita berisiko mengabaikan dimensi lain yang turut memeliharanya, yakni dimensi komunikasi sosial dan budaya bahasa.

Peace Linguistics Gomes de Matos (2014) menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga sarana yang membentuk cara manusia memandang dirinya dan orang lain. Bahasa dapat menjadi instrumen yang menumbuhkan penghormatan terhadap kehidupan, tetapi dapat pula menjadi medium yang memelihara permusuhan dan kekerasan. Dengan demikian, keamanan sosial tidak hanya ditentukan oleh aturan hukum, melainkan juga oleh cara masyarakat berkomunikasi dan membangun makna bersama.

Baca Juga :  Pendidikan Sebagai Ruh Kebangkitan Nasional di Era Digital Berbasis Budaya

Dalam konteks geng motor, kekerasan fisik yang tampak di jalanan sering kali didahului oleh kekerasan simbolik yang berlangsung dalam ruang komunikasi. Di media sosial, misalnya, tidak sedikit konflik yang diawali oleh ejekan, tantangan antarkelompok, penghinaan, atau glorifikasi keberanian yang diukur dari kemampuan melakukan kekerasan. Bahasa kemudian menjadi sarana untuk membangun identitas kelompok sekaligus melegitimasi tindakan agresif. Pada titik ini, tawuran bukan lagi sekadar peristiwa kriminal, melainkan ekspresi dari cara berpikir yang telah dibentuk oleh pola komunikasi tertentu.

Karena itu, krisis keamanan yang ditimbulkan oleh maraknya geng motor sesungguhnya juga merupakan krisis komunikasi sosial. Ketika bahasa yang beredar dalam ruang publik semakin akrab dengan penghinaan, ancaman, dan glorifikasi kekerasan, masyarakat secara perlahan membangun lingkungan simbolik yang permisif terhadap tindakan agresif. Kekerasan kehilangan daya kejutnya dan mulai dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan sosial. Di sinilah bahasa tidak lagi berfungsi sebagai jembatan peradaban, melainkan menjadi medium yang memperlebar jarak sosial dan memelihara konflik.

Persoalan lain yang juga perlu dicermati adalah cara masyarakat memberi label kepada pelaku kekerasan. Tidak jarang muncul sebutan seperti “anak-anak rusak”, “sampah masyarakat”, atau istilah lain yang bersifat stigmatis. Kemarahan publik terhadap tindakan kriminal tentu dapat dipahami. Namun, Gomes de Matos mengingatkan bahwa bahasa yang hanya bertumpu pada stigma berpotensi menutup ruang perubahan. Ketika seseorang terus-menerus ditempatkan dalam identitas negatif, peluang untuk membangun kesadaran baru dan melakukan transformasi sosial menjadi semakin kecil.

Pandangan tersebut tidak berarti tindakan kriminal harus ditoleransi. Hukum tetap harus ditegakkan secara tegas demi melindungi masyarakat. Akan tetapi, penting untuk membedakan antara mengutuk tindakan dan menghilangkan kemanusiaan pelakunya. Bahasa damai tidak identik dengan sikap lunak terhadap kejahatan. Sebaliknya, bahasa damai berupaya menjaga keseimbangan antara penegakan keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Paparan sebelumnya berkenaan dengan gagasan Martin (2004) melalui Positive Discourse Analysis. Jika banyak pendekatan kritis berfokus pada pembongkaran masalah sosial, Martin menekankan pentingnya menghadirkan wacana yang membangun harapan, solidaritas, dan perubahan positif. Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui apa yang salah, tetapi juga perlu memiliki gambaran tentang apa yang benar dan layak diperjuangkan bersama.

Dalam konteks Makassar, ruang publik sering kali lebih ramai oleh narasi ketakutan daripada narasi harapan. Berita tentang tawuran, pembegalan, dan aksi geng motor memang penting sebagai bentuk kontrol sosial. Namun, jika ruang publik hanya dipenuhi oleh narasi ancaman, masyarakat perlahan membangun imajinasi kolektif bahwa kekerasan adalah identitas utama generasi muda. Akibatnya, publik kehilangan kemampuan untuk melihat potensi-potensi positif yang sesungguhnya jauh lebih besar.

Baca Juga :  Guru Pedalaman di Era Digital: Ketimpangan, Perjuangan, Dan Asa Baru

Padahal, di luar sorotan media, tidak sedikit anak muda Makassar yang aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, olahraga, kewirausahaan, komunitas literasi, dan gerakan kemanusiaan. Mereka membangun solidaritas, menciptakan inovasi, dan menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Dalam perspektif Martin, narasi-narasi semacam ini perlu diperkuat karena mampu menghadirkan model identitas alternatif bagi generasi muda. Jika kekerasan menawarkan pengakuan melalui rasa takut, maka narasi positif menawarkan pengakuan melalui kontribusi sosial.

Pesan tersebut sejalan dengan makna terdalam Iduladha. Kurban bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang mengendalikan diri dari dorongan yang merusak kehidupan bersama. Dalam konteks sosial, pengendalian diri itu dapat diwujudkan dalam bentuk kemampuan menahan amarah, menghindari penghinaan, menolak budaya kekerasan, dan membangun komunikasi yang menghargai martabat manusia. Dengan demikian, makna kurban tidak berhenti pada ritual keagamaan, tetapi berlanjut menjadi etika sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menjadikan Makassar sebagai kota yang aman tidak cukup hanya dengan memperbanyak patroli atau operasi keamanan. Upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan pembangunan budaya bertutur damai. Keluarga perlu menjadi ruang pertama yang mengajarkan empati dan penghormatan terhadap sesama. Sekolah dan kampus harus memperkuat pendidikan karakter, literasi digital, dan resolusi konflik. Media massa perlu menghadirkan lebih banyak kisah transformasi dan inspirasi generasi muda. Sementara itu, tokoh agama dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk terus meneguhkan narasi persaudaraan, penghormatan terhadap kehidupan, dan pentingnya hidup berdampingan secara damai.

Akhirnya, keamanan bukan hanya persoalan absennya kejahatan, tetapi juga hadirnya rasa saling percaya di antara warga. Rasa percaya itu tumbuh dari budaya komunikasi yang sehat, yang menghormati martabat manusia dan menolak normalisasi kekerasan. Iduladha mengingatkan bahwa pengorbanan terbesar bukan hanya pengorbanan materi, melainkan pengorbanan ego yang mendorong manusia untuk merendahkan, melukai, dan menguasai sesamanya. Di tengah bayang-bayang aksi geng motor yang meresahkan, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Sebab perdamaian sering kali bermula dari hal yang sederhana: cara kita berbicara, cara kita memandang sesama, dan cara kita membangun harapan bersama tentang masa depan kota yang lebih aman, lebih beradab, dan lebih manusiawi. (*)

Berita Terkait

Jangan Paksa Anak “Langsung Bisa”: Memahami Transisi PAUD ke SD yang Ramah Anak
Pentingnya Pemahaman Politik bagi Generasi Z di Era Digital Saat Ini
Jadikan Pengorbanan sebagai Lifestyle di Era Modern : Inspirasi Spiritual dari Keluarga Ibrahim
Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku : Kematangan Psikologis Sebagai Fondasi Toleransi
Hadir Bukan Berkompetisi, Tetapi Berkolaborasi
Guru Pedalaman di Era Digital: Ketimpangan, Perjuangan, Dan Asa Baru
Menjaga Kekondusifan dan Kenetralan atas Badai Psikologis dalam Dinamika Kepemimpinan di UNM
Ketika Timnas Sepak Bola Indonesia Dicaci dan Dipuja

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:13 WIB

Refleksi Iduladha dan Krisis Bahasa Perdamaian di Tengah Bayang-Bayang Geng Motor 

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:00 WIB

Jangan Paksa Anak “Langsung Bisa”: Memahami Transisi PAUD ke SD yang Ramah Anak

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:55 WIB

Pentingnya Pemahaman Politik bagi Generasi Z di Era Digital Saat Ini

Rabu, 27 Mei 2026 - 08:41 WIB

Jadikan Pengorbanan sebagai Lifestyle di Era Modern : Inspirasi Spiritual dari Keluarga Ibrahim

Rabu, 24 Desember 2025 - 09:01 WIB

Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku : Kematangan Psikologis Sebagai Fondasi Toleransi

Berita Terbaru