MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Berbagai fenomena dalam tatakelola akademik di Universitas Negeri Makassar (UNM) telah menimbulkan hambatan dan kesulitan bagi mahasiswa di dalam menyelesaikan studinya. Salah satu dugaan penyebabnya karena tidak adanya satu kurikulum yang menjadi acuan. Masing-masing program studi (prodi) menyusun kurikulum sehingga terdapat perbedaan, di antaranya besaran nilai satuan kredit semester (SKS).
Hal itu disampaikan Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof.Dr. Aslinda, M.Si. dalam laporan sebagai penanggung jawab kegiatan perubahan kurikulum prodi dalam kegiatan Lokakarya Penginputan Mata Kuliah Kurikulum dan CPL Terstandar pada Sistem New SIA UNM, Sabtu (4/7/2026) di Ballroom D Lantai 1 Gedung Menara Pinisi.
Di depan sekitar 126 orang Koordinator Prodi dari jenjang pendidikan D3, Sarjana Terapan (D4), Sarjana, Magister, hingga Doktor, Prof. Aslinda mengatakan bahwa perubahan kurikulum yang terstandar dilakukan untuk memperbaiki sistem akademik yang selama ini selalu menimbulkan masalah.
Prof. Aslinda mencontohkan bahwa terdapat penomoran mata kuliah yang berbeda, termasuk Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Nama mata kuliah berbeda. Bahkan, SKS juga berbeda, misalnya MKDU Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam, ada yang 2 SKS dan 3 SKS.
“Bahkan, ada mahasiswa yang terkendala satu mata kuliah dengan 1 SKS untuk menyelesaikan studi. Bayangkan, dalam kurikulum mengapa ada 1 SKS. Hal ini bakal menyulitkan mahasiswa memenuhi target jumlah SKS yang harus dilulusi,” ungkap Prof. Aslinda.
Penyebab kedua, jelas Prof. Aslinda, adanya peraturan kementerian yang mewajibkan semua perguruan tinggi melakukan perubahan kurikulum menjadi terstandar. Pemerintah menetapkan kurikulum berstandar dan berbasis Outcome Based Education (OBE).
Ia lanjut menjelaskan, OBE adalah pendekatan sistem pendidikan yang berfokus pada hasil akhir (kompetensi/kemampuan mahasiswa) setelah menyelesaikan masa pembelajaran, bukan sekadar penyampaian materi. Di Indonesia, kurikulum ini kini menjadi standar wajib bagi perguruan tinggi.
“Alhamdulillah, telah selesai sebanyak 126 kurikulum prodi dengan rincian jenjang pendidikan D3 sejumlah 1 prodi, Sarjana Terapan 10 prodi, Sarjana 76 prodi, Magister 27 prodi, dan Doktor 12 prodi. Ke-126 kurikulum prodi akan diinput di New SIA UNM untuk diimplementasikan,” katanya.
Perubahan lain dalam kurikulum terstandar adalah penetapan tiga mata kuliah sebagai penciri universitas, yaitu kewirausahaan, literasi sains dan seni, dan pendidikan inklusi khusus prodi kependidikan.
“Selama ini, hanya satu mata kuliah penciri universitas, yaitu kewirausahaan. Hal ini selalu menjadi temuan para asesor dalam akreditasi prodi karena belum sepenuhnya sejalan dengan visi, misi, dan tujuan UNM,” tegas Prof. Aslinda.
Kegiatan lokakarya ini dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt.) UNM, Prof.Dr. Farida Patittingi,S.H., M.Hum. yang menyampaikan apresiasi kepada semua koordinator prodi yang selalu memberikan pengabdian terbaik kepada UNM, seperti yang akan dilakukan dengan menginput kurikulum dan CPL terstandar ke sistem New SIA UNM.
“Prodi adalah jantung akademik UNM. Di prodilah semua terkait dengan kapasitas, kualitas, dan kepastian lahirnya lulusan yang berkualitas dan hebat,” tegasnya.
Prof. Farida mengajak para koordinator prodi untuk terus bersinergi dalam melakukan transformasi dengan berlari kencang. Mari melakukan pembenahan sistem akademik dan kemahasiswaan.
“Saya mengapresiasi lahirnya tiga mata kuliah penciri universitas. Mata kuliah kewirausahaan akan melahirkan pemimpin berjiwa enterpreneurship. Mahasiswa butuh penguatan karakter sehingga mampu beradaptasi di dunia pekerjaan,” pungkasnya. (Ans/Why)















