MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali mengirimkan mahasiswa terbaiknya untuk bersaing di tingkat nasional. Sebanyak dua tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berhasil lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 yang akan berlangsung di Universitas Diponegoro, Semarang, pada 2–7 November 2026.
Kedua tim tersebut secara resmi dilepas oleh Dekan FBS UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum., dalam kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung DA FBS UNM, Kamis (29/10/2026).
Pelepasan ini turut dihadiri Wakil Dekan FBS UNM, Prof. Dr. Sultan, S.Pd., M.Pd., pimpinan program studi, dosen pendamping, serta mahasiswa yang akan mengikuti kompetisi nasional tersebut.
Keberhasilan dua tim melaju ke PIMNAS menjadi capaian tersendiri bagi FBS UNM. Sebelumnya, fakultas tersebut berhasil meloloskan empat tim untuk memperoleh pendanaan PKM. Dari jumlah itu, dua tim berhasil melanjutkan perjuangan ke tahap nasional.
Menariknya, kedua tim yang lolos berasal dari skema PKM Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) dan berada di bawah bimbingan dosen pendamping Yusri, S.Pd., M.A.
Dalam sambutannya, Dekan FBS UNM Prof. Anshari menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa dan dosen pendamping mempertahankan tradisi keikutsertaan fakultas dalam kompetisi ilmiah nasional.
“Tradisi PIMNAS ini merupakan bagian yang tidak bisa terlepas dari Fakultas Bahasa dan Sastra,” kata Prof. Anshari.
“Tahun ini kami berhasil meloloskan 2 tim meski dengan efisiensi anggaran,” lanjutnya.
Adapun dua tim yang berhasil melaju ke PIMNAS dipimpin oleh Praskaliska Glodia Tangdiaga dan Alfi Zahra Syakila L.
Tim Praskaliska mengusung penelitian berjudul “Bahasa Konflik Global dan Produksi Kepanikan Publik: Studi Wacana Linguistik dalam Pemberitaan Konflik Timur Tengah dan Implikasinya bagi Komunikasi Krisis.”
Sementara itu, tim Alfi Zahra Syakila L. mengangkat penelitian berjudul “Ketika Bahasa Menjadi Alat Disinformasi: Strategi Tindak Tutur Manipulatif dalam Berita Hoaks Kebijakan Pemerintah dan Implikasinya terhadap Erosi Kepercayaan Politik.”
Kedua penelitian tersebut memperlihatkan perhatian mahasiswa FBS UNM terhadap persoalan kebahasaan yang berkaitan dengan isu global, komunikasi krisis, disinformasi, dan kepercayaan publik.
Di hadapan mahasiswa, Prof. Anshari mengingatkan bahwa keberhasilan menembus PIMNAS bukanlah akhir dari perjuangan. Ia berharap kedua tim mempersiapkan diri secara maksimal agar mampu bersaing dengan delegasi perguruan tinggi lainnya.
“Saya tahu anak-anak sekalian sangat memimpikan juara. Jangan sudah puas karena sudah sampai seleksi Semarang di Diponegoro, tapi saya harap dapat memperoleh juara,” tegasnya.
Menurut Prof. Anshari, penguasaan materi penelitian saja tidak cukup untuk menghadapi kompetisi nasional. Kemampuan menyampaikan gagasan, kerja sama, dan kekompakan anggota tim juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan.
“Pembekalan ini penting bagi anak-anak kita untuk menyampaikan presentasi dengan baik. Tentu saja presentasi kita bukan didominasi oleh penguasaan materi, tetapi juga tentang kekompakan tim dalam penyampaian presentasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga sikap dan mengendalikan ego selama mengikuti kompetisi. Sebab, mahasiswa yang berangkat tidak hanya mewakili diri sendiri, tetapi juga membawa reputasi institusi.
“Anda ke Undip Semarang, kalian tidak membawa diri sendiri, kalian membawa nama prodi, fakultas, dan UNM,” pesannya.
Selain memberikan motivasi, pimpinan fakultas juga mengupayakan dukungan berupa uang saku bagi mahasiswa yang akan berangkat ke Semarang, meskipun dukungan tersebut tidak tercantum secara khusus dalam alokasi anggaran kegiatan fakultas.
Prof. Anshari menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menyurutkan semangat mahasiswa untuk menorehkan prestasi.
Ia bahkan berpesan agar para mahasiswa terlebih dahulu menemui orang tua sebelum berangkat untuk meminta doa dan restu.
“Sebelum berangkat saya harap pulang dulu ke orang tuanya, minta doa, tentu minta maaf atas semua kesalahannya, karena doa ibu sangat ampuh agar doa kita dijawab sama Allah SWT,” tuturnya.
Lebih jauh, Prof. Anshari menilai keikutsertaan dalam PIMNAS merupakan pengalaman akademik yang berharga. Selain membuka peluang meraih penghargaan nasional, kompetisi tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan penelitian, komunikasi ilmiah, dan kerja sama tim.
“Ada dampak yang saya lihat sangat baik, apalagi tercatat menjadi juara. Tidak tercatat jadi juara pun, itu menjadi poin yang sangat baik bagi catatan akademik,” katanya. (Ikb/Ans/Why)















