MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM), Dr. Andi Agussalim AJ, kembali membawa seni tradisi Sulawesi Selatan ke panggung internasional. Bersama Ida El-Bahra Art Management, ia tampil dalam rangkaian festival folklor dan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional di delapan kota di Prancis.
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung pada 9 Juli hingga 24 Agustus 2026 dan berada dalam jejaring kegiatan yang direkomendasikan International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF).
Ida El-Bahra Art Management dipimpin oleh Dr. Nurwahidah, koreografer, penari, sekaligus akademisi UNM. Bersama rombongan seniman Indonesia, tim ini memperkenalkan kekayaan seni Bugis-Makassar melalui pertunjukan musik, tari, teater, sastra tutur, hingga kegiatan edukasi budaya kepada masyarakat internasional.
Salah satu agenda utama yang diikuti adalah The 53rd Festival “Les Cultures du Monde” di Montoire-sur-le-Loir. Selain Montoire, rombongan juga mengikuti rangkaian festival dan kegiatan kebudayaan di Chambéry, Montseveroux, Le Puy-en-Velay, Montignac, Pujols, Amélie-les-Bains, dan Haguenau.
Dalam rangkaian tur tersebut, Andi Agussalim AJ tampil membawa identitasnya sebagai Pakkacapi Bugis atau pemain kecapi Bugis. Denting kecapi yang dimainkan menjadi bagian penting dalam berbagai bentuk pertunjukan seni tradisional Indonesia.
Kecapi Bugis digunakan sebagai instrumen pengiring dalam ansambel musik tradisional, tari, lagu-lagu daerah Makassar dan Bugis, hingga pementasan Teater-Tari La Galigo.
Tidak hanya memainkan instrumen tradisional, Andi Agussalim juga menghadirkan sastra tutur yang dikembangkan secara kontekstual. Tuturan disesuaikan dengan situasi panggung, karakter audiens, serta dinamika interaksi yang berlangsung selama pertunjukan.
Pendekatan tersebut menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda pada setiap pertunjukan. Sastra tutur tidak sekadar dipentaskan sebagai warisan masa lalu, tetapi dikembangkan menjadi medium komunikasi budaya yang hidup dan responsif terhadap audiens internasional.
Kapasitas musikal Andi Agussalim juga mendapat ruang dalam kolaborasi lintas negara. Sebagai komposer, ia dipercaya memimpin pertunjukan orkestra gabungan yang melibatkan musisi dari berbagai negara peserta festival.
Pertunjukan tersebut mempertemukan berbagai karakter instrumen, ritme, dan tradisi musik dalam satu ruang kolaborasi. Kecapi Bugis dan identitas musikal Sulawesi Selatan pun hadir berdampingan dengan tradisi musik dari negara lain.
Selain tampil di atas panggung, rangkaian kegiatan tersebut membawa misi Pengabdian kepada Masyarakat Internasional. Andi Agussalim bersama tim memberikan workshop interaktif kepada masyarakat dan komunitas seni di lokasi kegiatan.
Materi yang diperkenalkan meliputi teknik permainan kecapi Bugis, eksplorasi bunyi tradisional, pengolahan vokal dan sastra tutur, serta pengenalan dinamika gerak dan ritme Ganrang Bulo.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat internasional tidak hanya menyaksikan kesenian Indonesia sebagai pertunjukan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal proses penciptaan, memainkan instrumen, serta mempelajari karakter ritme dan gerak tradisional Sulawesi Selatan. (Ikb/Ans/Why)


























