TAKALAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)– Dosen Program Studi Administrasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) sukses menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMAN 3 Kab. Takalar, Sabtu 15 Agustus 2026.
Tim dosen pengabdi tersebut masing-masing, Dr. Wahyudin, S.Pd, M.Pd (Ketua), Dr. Samsiana, SKM.,M.Kes (Anggota) dan Dr. Nur Inayah Ismaniar, SKM.,M.Kes (Anggota).
Ketua Pengabdi, Wahyudin menyatakan bahwa siswa klub sepak bola merupakan kelompok remaja yang aktif secara fisik dan memiliki potensi besar untuk mencapai performa olahraga yang optimal. Namun, masa remaja juga merupakan fase yang rentan terhadap pengaruh teman sebaya, konstruksi maskulinitas, dan perilaku berisiko seperti merokok.
Lebih lanjut dikatakannya, di Indonesia, perilaku merokok pada kelompok usia remaja masih menjadi permasalahan kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Paparan rokok dapat berdampak terhadap fungsi paru, kapasitas pengangkutan oksigen, daya tahan kardiorespirasi, stamina, kecepatan dan konsistensi performa, serta proses pemulihan otot.
Selain berdampak terhadap performa atlet, rokok juga berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi melalui gangguan hormon, kualitas sel reproduksi, dan risiko masalah fertilitas jangka panjang.
“Sehingga kondisi tersebut menjadi permasalahan pada siswa Klub Sepak bola SMAN 3 Takalar karena pemahaman mengenai hubungan rokok, performa atlet, dan kesehatan reproduksi masih terbatas serta edukasi kesehatan reproduksi belum terintegrasi dalam pembinaan olahraga,”tegas Wahyudin.
Sementara itu, anggota pengabdi lainnya, Dr. Samsiana, SKM.,M.Kes, mengemukakan bahwa urgensi kegiatan ini terletak pada kebutuhan untuk memberikan edukasi yang kontekstual dan berbasis komunitas klub olahraga sehingga siswa tidak hanya memahami bahaya rokok secara umum, tetapi juga memahami dampaknya terhadap kebugaran, performa olahraga, dan kesehatan reproduksi.
Dijelaskannya bahwa klub sepakbola memiliki struktur organisasi yang jelas melalui pelatih, kapten, dan anggota serta dukungan sekolah terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga, sehingga memiliki potensi menjadi wadah perubahan perilaku sehat.
“Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai dampak rokok terhadap performa atlet dan kesehatan reproduksi serta membangun budaya klub yang mendukung gaya hidup aktif dan bebas rokok,”ungkap Samsiana.
Anggota pengabdi lainnya, Dr. Nur Inayah Ismaniar, SKM.,M.Kes, mengatakan bahwa metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pemberdayaan, edukatif, dan partisipatif yang terdiri atas lima tahapan, yaitu sosialisasi, pelatihan dan edukasi, penerapan teknologi dan inovasi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program.
Kegiatan diawali dengan pemetaan kondisi awal melalui kuesioner pengetahuan mengenai bahaya rokok, perilaku merokok, dan kesehatan reproduksi serta pengukuran kebugaran awal. Penerapan teknologi menggunakan CO breath analyzer untuk mengukur kadar karbon monoksida dalam napas secara cepat dan non-invasif sebagai bagian dari skrining dan media edukasi.
Selanjutnya diberikan edukasi mengenai dampak rokok terhadap kapasitas paru, VO₂ max, daya tahan kardiorespirasi, waktu pemulihan otot, dan kesehatan reproduksi. Kegiatan diperkuat melalui diskusi kelompok terarah (FGD), pengembangan modul “Atlet Muda Sehat Tanpa Rokok”, kampanye visual, penyusunan SOP Pembinaan Klub Sehat, dan deklarasi komitmen Klub Bebas Rokok.
“Saya perlu sampaikan bahwa hasil evaluasi pengetahuan pada 26 siswa menunjukkan bahwa data pre-test dan post-test tidak berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk, dengan nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,001 dan 0,000 (p < 0,05). Oleh karena itu, analisis dilanjutkan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan diperoleh nilai Z sebesar -2,341 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,019 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah edukasi,”pungkas Nur Inayah Ismaniar.
Luaran program meliputi peningkatan pengetahuan siswa, hasil analisis kadar CO, modul edukasi, pelaksanaan FGD, komitmen Klub Bebas Rokok, SOP Pembinaan Klub Sehat, serta laporan evaluasi perubahan pengetahuan dan sikap siswa. Program ini diharapkan dapat memperkuat pembinaan olahraga berbasis kesehatan, mendukung perilaku hidup aktif dan bebas rokok, serta menjadi model pemberdayaan yang dapat dilanjutkan oleh sekolah dan klub sepakbola. (Why/Ans)


























