MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Konsul Australia untuk Makassar yang baru, Isaac Bennett, melakukan kunjungan silaturahmi ke Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM), Senin (29/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi kunjungan perdana Isaac Bennett ke perguruan tinggi sejak bertugas sebagai Konsul Australia di Makassar menggantikan Todd Dias.
Kunjungan Isaac Bennett didampingi Founder MAREGE Institute dan Makassar Biennale, Nurabdiansyah Ramli. Pertemuan ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama antara Konsulat Australia, MAREGE Institute, dan FBS UNM, khususnya dalam bidang riset kebahasaan, budaya, dan sejarah hubungan masyarakat Makassar-Bugis dengan masyarakat adat Aborigin di Australia.
Bertempat di Perpustakaan Digital FBS UNM, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Samtidar, S.Pd, M.Ed., Ed.D. didampingi Pimpinan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Makassar, Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Bugis, dan para dosen menerima kunjungan silaturahim sekaligus mendengarkan penjelasan Isacc Bennet dan Nurabdiansyah Ramli yang akrab disapa Abi.
Mengapa jalinan kekerabatan Suku Bugis-Makassar dan Australia begitu kuat melalui Jalur Teripang? Selama lebih 200 tahun, ratusan nelayan Bugis-Makassar tiba setiap bulan Desember dan berkemah di sepanjang pantai Arnhem Land. Di sana, mereka menangkap, merebus, dan mengeringkan teripang. Selama kunjungan ini, para nelayan bertemu, berinteraksi, berdagang, dan bekerja sama dengan penduduk asli Aborigin setempat.
Para pelaut Bugis-Makassar, bahkan kata Isaac Bennet, juga ada pelaut Suku Mandar, memanfaatkan arah angin sebagai tenaga penggerak mereka sampai ke tanah Arnhem, Tekuk Carpentaria atau Kimberley, Australia. Wilayah tersebut berada di Australia bagian utara dan teridentifikasi sebagai kawasan yang banyak dikunjungi pelaut Bugis, Makassar, dan Mandar mencari Teripang.
Salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah peluang pengembangan riset bahasa Makassar dan Bugis dalam konteks Jalur Teripang. Jalur ini merujuk pada sejarah pelayaran dan hubungan maritim masyarakat Makassar dan Bugis dengan masyarakat Aborigin di Australia, terutama melalui aktivitas perdagangan teripang yang berlangsung sejak masa lampau.
Melalui kunjungan tersebut, Konsul Australia menyampaikan ketertarikannya untuk menjalin kerja sama riset kebahasaan dengan FBS UNM. Kerja sama ini dinilai penting karena FBS UNM memiliki basis akademik yang kuat dalam bidang linguistik, literasi, humaniora, dan kajian budaya lokal.
Selain riset kebahasaan, pertemuan ini juga membuka ruang kolaborasi dalam bidang pendidikan, pertukaran pengetahuan, pengembangan kajian budaya maritim, serta pengabdian masyarakat berbasis hubungan historis Makassar, Bugis, dan Australia.
MAREGE Institute sendiri merupakan lembaga yang berfokus pada penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat berbasis pengetahuan kemaritiman, seni, serta budaya lokal. Lembaga ini terinspirasi dari hubungan bersejarah antara pelaut Makassar dan masyarakat adat Australia yang dikenal melalui Jalur Teripang.
Founder MAREGE Institute, Nurabdiansyah Ramli, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik dan budaya antara Indonesia dan Australia.
“FBS UNM memiliki posisi strategis untuk terlibat dalam pengembangan riset kebahasaan, terutama yang berkaitan dengan jejak bahasa Makassar dan Bugis dalam relasi historis dengan masyarakat Aborigin,”katanya
Dia berharap pertemuan ini menjadi pintu masuk bagi lahirnya kerja sama berkelanjutan antara FBS UNM, Konsulat Australia, MAREGE Institute, serta jejaring akademik dan komunitas di Indonesia maupun Australia. Kerja sama tersebut juga diharapkan dapat memperkuat posisi bahasa dan budaya lokal Sulawesi Selatan dalam kajian internasional.
Dalam pertemuan tersebut, pembahasan mengenai Jalur Teripang menjadi salah satu perhatian utama. Jalur Teripang merupakan jejak sejarah pelayaran masyarakat Bugis-Makassar ke Australia bagian utara untuk mencari dan memperdagangkan teripang. Aktivitas ini berlangsung sejak sekitar abad ke-18 hingga awal abad ke-20 dan mempertemukan pelaut Sulawesi Selatan dengan masyarakat adat Aborigin, khususnya di wilayah Arnhem Land. Hubungan tersebut tidak hanya meninggalkan jejak perdagangan, tetapi juga jejak kebahasaan, budaya, seni, tradisi lisan, dan pengetahuan maritim.
Melalui kerja sama riset yang dijajaki bersama FBS UNM, Jalur Teripang dinilai memiliki nilai akademik yang kuat untuk dikaji lebih mendalam. Riset kebahasaan dapat diarahkan untuk menelusuri pengaruh bahasa Makassar dan Bugis dalam interaksi historis dengan komunitas Aborigin Australia, termasuk kemungkinan jejak kosakata, istilah maritim, narasi lisan, dan memori budaya yang masih hidup hingga saat ini. (Ikb/Ans/Why)


























