MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar ujian disertasi Program Doktor S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa secara daring, Rabu, 1 Juli 2026.
Ujian disertasi tersebut menghadirkan penguji eksternal dari luar negeri, yakni Dr. Suhailee Sohnui, M.Pd., akademisi dari Chiang Mai University, Thailand.
Dr. Suhailee Sohnui dikenal memiliki kedekatan akademik dengan bahasa Indonesia. Ia pernah menempuh pembelajaran bahasa Indonesia selama lima tahun di Indonesia, sehingga memiliki pemahaman yang kuat terhadap konteks bahasa, budaya, dan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.
Ujian disertasi tersebut dipimpin langsung Dekan FBS UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum., selaku ketua sidang. Adapun mahasiswa yang diuji adalah Ratnawati dengan NIM 210009102001 dari Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa.
Dalam ujian itu, Ratnawati mempresentasikan disertasi berjudul “Pengembangan Materi Pembelajaran BIPA Tingkat Pemula Berbasis Ekologi Bahasa dalam Konteks Sosial Budaya Sulawesi Selatan”.
Riset tersebut merupakan penelitian dan pengembangan yang menghasilkan produk bahan ajar BIPA tingkat pemula. Produk yang dikembangkan diberi nama BIPA-EkoSulsel: Bahasa Kita, yakni bahan ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing berbasis ekologi bahasa dalam konteks sosial-budaya Sulawesi Selatan.
Dalam paparannya, Ratnawati menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya posisi bahasa Indonesia di tingkat global. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada 2023, diajarkan di 52 negara, dipelajari sekitar 150 ribu pelajar asing, serta didukung oleh ratusan lembaga penyelenggara BIPA.
Namun, menurut hasil kajian yang dipaparkan, ketersediaan bahan ajar BIPA masih belum memadai. Materi BIPA yang tersedia dinilai masih banyak bersifat umum, belum kontekstual, belum berbasis praktik komunikasi lokal, serta belum sepenuhnya memanfaatkan pendekatan ekologi bahasa.
Atas dasar itu, Ratnawati mengembangkan bahan ajar BIPA pemula yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga menempatkan bahasa Indonesia sebagai praktik sosial yang hidup dalam ruang budaya masyarakat.
Kebaruan penelitian tersebut terletak pada integrasi teori ekologi bahasa ke dalam pengembangan materi BIPA, penggunaan praktik komunikasi sosial-budaya Sulawesi Selatan sebagai sumber materi, pengembangan model bahan ajar BIPA tingkat pemula berbasis konteks lokal, serta penerapan model ADDIE adaptif berbasis data kualitatif.
Bahan ajar yang dikembangkan memuat praktik komunikasi lokal Sulawesi Selatan, seperti sapaan dan relasi sosial, kesantunan verbal dan nonverbal, transaksi pasar, memesan makanan lokal, komunikasi kampus, komunikasi di lingkungan tempat tinggal, transportasi dan arah, pertemuan sosial, basa-basi dan keramahan, ragam lokal terbatas, nilai budaya, serta transformasi pedagogis.
Beberapa contoh ungkapan lokal yang diangkat dalam materi antara lain penggunaan sapaan Pak, Bu, Kak, Daeng, dan Puang, serta ungkapan kesantunan seperti permisi, tabe, terima kasih, dan maaf. Materi juga memperkenalkan konteks komunikasi sehari-hari seperti berbelanja di pasar, memesan coto, menanyakan arah, berinteraksi di kampus, hingga memahami basa-basi dalam budaya Sulawesi Selatan.
Produk BIPA-EkoSulsel: Bahasa Kita disusun dalam 10 unit pembelajaran, meliputi perkenalan, identitas diri, ciri fisik, aktivitas sehari-hari, Kota Makassar, transportasi, perbelanjaan, hobi, jalan-jalan, dan mengenal Sulawesi Selatan.
Bahan ajar tersebut memiliki sejumlah karakteristik, yakni berbasis kebutuhan pembelajar, berbasis praktik komunikasi lokal, komunikatif, kontekstual, autentik-adaptif, interkultural, sederhana dan bertahap, multimodal, berbasis aktivitas komunikatif, serta reflektif terhadap budaya.
Dalam hasil pengembangan, produk bahan ajar tersebut memperoleh tingkat kelayakan 93,11 persen dan dikategorikan sangat layak. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar BIPA berbasis ekologi bahasa dapat menjadi alternatif pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih kontekstual, komunikatif, dan dekat dengan pengalaman nyata penutur asing.
Selain Prof. Dr. Anshari, M.Hum. sebagai ketua sidang, ujian disertasi tersebut juga melibatkan Prof. Dr. Mantasiah R., M.Hum. sebagai sekretaris/Kaprodi sekaligus promotor, Prof. Dr. Sultan, S.Pd., M.Pd. sebagai kopromotor, Prof. Dr. Idawati, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Nensilianti, S.Pd., M.Hum., dan Dr. Asia M.S., M.Pd. sebagai penguji internal, serta Dr. Suhailee Sohnui, M.Pd. dari Chiang Mai University, Thailand, sebagai penguji eksternal. (Ikb/Ans/Why)


























