MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM), Prof. Anshari, M.Hum., menegaskan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi tidak boleh dimaknai sebagai akhir dari proses belajar. Gelar akademik justru menjadi penanda berakhirnya satu tahapan perjuangan sekaligus membuka kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ke jenjang berikutnya.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Anshari dalam kegiatan Ramah Tamah Alumni FBS UNM yang berlangsung di Hotel Four Points Makassar, Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti para calon wisudawan bersama orang tua, pimpinan universitas, pimpinan fakultas, dosen, dan sivitas akademika FBS UNM.
“Momentum kegiatan ramah tamah alumni yang selalu kita selenggarakan bukan sekadar perayaan seremonial atas capaian dan penyematan gelar akademik, melainkan menjadi penanda bahwa perjuangan dan pengorbanan dalam satu tahapan perjalanan akademik telah berakhir,” ujar Prof. Anshari.
Menurutnya, berakhirnya masa studi di satu jenjang pendidikan bukan berarti proses belajar seseorang ikut berhenti. Para alumni masih memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan diri, baik melalui pendidikan lanjutan maupun pengalaman di tengah masyarakat.
“Berakhir bukan berarti berhenti sama sekali. Masih terbuka peluang dan kesempatan untuk menapaki jenjang pendidikan selanjutnya,” katanya.
Atas nama pimpinan FBS UNM, Prof. Anshari menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada seluruh alumni yang berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ia menilai gelar akademik yang diraih merupakan hasil dari perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan, pengorbanan, dukungan keluarga, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan selama berada di bangku kuliah.
“Gelar akademik yang disandang tidak diperoleh serta-merta seperti membalikkan telapak tangan. Ada proses, perjuangan, pengorbanan, dan berbagai tantangan yang harus dilewati,” ujarnya.
Prof. Anshari juga mengajak para alumni untuk tetap memiliki kerendahan hati dalam memaknai keberhasilan. Menurutnya, manusia harus berusaha sebaik mungkin, tetapi dalam setiap perjalanan kehidupan selalu terdapat dimensi yang berada di luar kendali manusia.
Karena itu, capaian akademik, kata dia, seharusnya semakin meningkatkan kesadaran diri para lulusan untuk mensyukuri keberhasilan sekaligus tetap tegar ketika suatu saat menghadapi kegagalan.
Ia mencontohkan perjalanan mahasiswa yang masuk perguruan tinggi pada waktu yang sama belum tentu berakhir pada waktu yang sama. Ada mahasiswa yang mampu menyelesaikan studi lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, bahkan terdapat mahasiswa yang harus menghadapi berbagai rintangan sehingga tidak dapat menyelesaikan pendidikannya.
“Para alumni yang akan diwisuda besok memang sudah tercatat menjadi alumni UNM. Meskipun mungkin masuk bersama-sama, waktu menyelesaikan studi bisa berbeda. Setiap orang mempunyai perjalanan dan tantangannya masing-masing,” jelasnya.
Pada periode Wisuda Agustus 2026, FBS UNM mencatat 115 lulusan dari jenjang sarjana, sarjana terapan, magister, dan doktor. IPK rata-rata lulusan mencapai 3,90 dengan masa studi rata-rata 3 tahun 8 bulan. Sebanyak 99 lulusan menyelesaikan pendidikan dalam waktu kurang dari empat tahun, sementara 100 orang atau sekitar 87 persen meraih predikat cumlaude.
Capaian tersebut, menurut Prof. Anshari, patut disyukuri, namun tidak boleh membuat para alumni berhenti mengembangkan kapasitas diri. Gelar akademik yang telah diperoleh harus menjadi modal untuk memberikan manfaat yang lebih luas di tengah masyarakat.
Pada periode ini, Kayla Zahra Prawoto Pribadi, S.S. dari Program Studi Sastra Inggris menjadi lulusan terbaik jenjang sarjana dengan IPK 3,99 dan masa studi 3 tahun 10 bulan. Untuk jenjang magister, predikat terbaik diraih St. Nur Aima Fatima, M.Pd. dari Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 4,00 dan masa studi 1 tahun 9 bulan. Sementara lulusan terbaik jenjang doktor diraih Dr. Zulkifli Surahmat dari Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 4,00 dan masa studi 3 tahun 9 bulan.
Prof. Anshari berharap keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi dan keluarga, tetapi juga menjadi awal bagi para alumni untuk menjaga nama baik almamater serta menghadirkan kontribusi nyata melalui bidang profesi dan pengabdian masing-masing. (Ikb/Ans/Why)


























