Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

- Penulis

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ada getaran tak kasat mata yang kerap bekerja di balik lembaran undangan digital. Di Ballroom Lotus B, Hotel Four Points by Sheraton Makassar, malam itu bukan sekadar perayaan Setengah Abad Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi UNM. Bagi saya, itu adalah sebuah titik temu kosmik—sebuah panggung yang dirancang takdir untuk mempertemukan dua sahabat yang terpisah selama 50 tahun oleh bentangan sejarah, ruang, dan waktu.

Berkali-kali undangan elektronik yang dikirim oleh Ratna Wulandari itu saya buka di layar ponsel. Saya tatap baris demi baris kalimatnya, lalu saya tutup kembali. Ada keraguan kecil yang mengambang. Namun, menjelang pukul tiga sore, rasa penasaran memaksa saya untuk membacanya dengan jauh lebih serius.

Di balik layar digital itu, terhampar sejarah panjang. Lembaran perjalanan LPM Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM)—yang dahulu kami kenal sebagai IKIP Ujungpandang—terbentang sejak kelahirannya pada 5 Mei 1976 hingga detik ini. Setengah abad bukanlah waktu yang singkat. Di dalamnya terekam masa-masa berdarah dan berani: Profesi pernah dibredel, para pengasuhnya pernah berurusan dengan interogasi polisi, dan suaranya selalu konsisten mengeritik ketimpangan di dalam maupun di luar kampus. Membaca kilas balik itu, darah kewartawanan saya berdesir hangat.

Malamnya, dengan mengenakan kemeja batik dan menghidupkan mesin sepeda motor butut milik anak saya, saya membelah jalanan Makassar. Ketika roda motor tua itu berhenti di pelataran parkir Hotel Four Points, jarum jam telah menunjuk pukul 19.30 WITA. Saya terlambat lebih dari satu jam dari jadwal resmi di undangan yang tertulis 18.30 WITA. Namun, bagi seorang jurnalis gaek, waktu formal sering kali melebur dalam momentum.

Langkah saya tertahan sesampainya di meja registrasi panitia. Di hadapan saya, tergelar dua buah buku tamu. Satu buku khusus untuk daftar hadir alumni, dan satu lagi untuk tamu biasa. Saya sempat dirundung bingung yang menggelitik. Di satu sisi, saya adalah bagian dari rahim kampus ini—alumni IKIP Ujungpandang angkatan 1976 jurusan Pendidikan Seni pada Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS). Di sisi lain, malam ini saya hadir bukan atas nama romantisme masa kuliah, melainkan sebagai undangan terhormat, Pimpinan Umum PedomanRakyat.co.id, jabatan yang disematkan Ratna Wulandari dalam undangan elektronik sore tadi. Akhirnya, pena saya goreskan di atas lembaran buku tamu biasa.

Saat melangkah masuk ke dalam Ballroom Lotus B, atmosfer ruangan masih terasa lengang. Tamu yang hadir masih bisa dihitung dengan jari. Dari empat meja bundar besar yang disiapkan panitia, baru satu meja yang terisi, itu pun hanya dihuni oleh lima orang. Menjaga jarak dan memilih menyendiri adalah gaya otentik saya setiap kali melakukan peliputan. Saya sengaja memilih tempat duduk di barisan belakang meja bundar, menyelinap di sudut sunyi. Tujuannya sederhana: agar kelak jika acara selesai, saya bisa langsung bergeser pergi tanpa perlu repot berpamitan atau melapor kepada panitia.

Sebuah Nama di Balik Rambut Putih

Baru saja pinggul saya hendak menyentuh kursi, seorang pria dari meja bundar di depan tiba-tiba berdiri. Ia melambaikan tangan ke arah saya dengan ramah.

“Sini saja, Pak, mumpung masih kosong,” ajaknya memecah kesunyian. Belakangan saya ketahui, pria ramah tersebut adalah salah satu mantan Pemimpin Redaksi LPM Profesi .

Sebelum melangkah mendekat, telinga saya sempat menangkap sayup-sayup percakapan dari meja mereka. Sebuah obrolan yang sarat dengan aroma masa lalu. Mereka sedang bernostalgia, melempar ingatan ke masa-masa jaket almamater masih mengkilap.

“Saya duduk di sini saja, Pak. Kalau saya gabung, saya bingung nanti. Bapak-bapak kan sedang bernostalgia,” jawab saya menolak halus sembari tetap berdiri kokoh di sudut belakang.

Namun, penolakan saya justru memicu reaksi lain. Seorang pria berambut putih keperakan yang duduk di samping seorang wanita paruh baya mendadak bangkit dari kursinya. Ia membalikkan badan menghadap saya, bermaksud mempertegas ajakan rekannya agar saya sudi bergabung.

Baca Juga :  AI Singularity Bisa Terjadi Dalam 12 Bulan : Apakah Kita Siap ?

​Begitu tatapan kami bertemu dan wajahnya terlihat utuh, jantung saya seperti melewatkan satu detakan. Memori bawah sadar saya yang terkubur selama puluhan tahun mendadak meledak ke permukaan. Kilatan masa muda di laboratorium seni rupa mendadak berputar laksana proyektor film tua. Tanpa sadar, saya berseru agak keras menyebut sebuah nama.

“Benny! Benny Subiantoro!” seru saya setengah tak percaya.

​Pria berambut putih itu mengerutkan kening. Tatapannya kosong, bingung, menyisir setiap inci wajah saya yang kini tentu tak semuda dulu lagi. “Siapa Anda?” tanyanya singkat, menyelidiki.

“Benny, saya Ardhy! Ardhy Basir!” jawab saya setengah mendesak, menantang kerutan di dahinya agar ingatan lamanya segera kembali bangkit.

“Astagfirullah!”

​Suara Benny pecah. Detik itu juga, tangan kami bertautan erat, disusul dekapan hangat dua lelaki tua yang saling merangkul. Di tengah riuh rendah persiapan ruang VIP hotel berbintang, dua pasang mata kami berkaca-kaca. Tepat setelah 50 tahun berpisah tanpa kabar, kami dipertemukan kembali. Saya akhirnya tersadar, firasat kuat yang terus memanggil-manggil saya untuk membuka-tutup undangan Ratna Wulandari sore tadi, ternyata adalah magnet takdir yang ingin menuntun saya ke pelukan sahabat lama ini.

Saksi Bisu Meja Laboratorium Seni

Kami berdua kemudian larut dalam pusaran kenangan. Di masa kuliah tahun 1970-an, jika tugas-tugas dari dosen menumpuk dan malam merayap terlalu larut, kami terbiasa merebahkan tubuh dan tidur beralaskan meja kayu di Laboratorium Seni Rupa FKSS IKIP Ujungpandang. Tak jarang, jika pikiran saya sedang buntu atau kalut dikejar tenggat waktu pengerjaan karya, Benny-lah penyelamat saya. Tangan dinginnya sering kali membantu menyelesaikan tugas-tugas seni rupa saya hingga tuntas.

Malam itu, rahasia sejarah lain terungkap di meja bundar. Kehadiran Benny di perayaan Setengah Abad LPM Profesi ternyata memegang posisi yang sangat sentral. Dialah sosok maestro di balik identitas visual pers mahasiswa tersebut. Karakter huruf (logotipe) tulisan “PROFESI” yang kokoh dan ikonik, yang digunakan di kop surat, majalah, hingga produk digital mereka sampai hari ini, adalah buah karya dari goresan tangan kreatif Benny Subiantoro setengah abad yang lalu.

Di meja bundar itu pula, dengan senyum merekah, Benny memperkenalkan wanita paruh baya di sampingnya. “Ini Lilik Adriana,” ujarnya. Gadis Toraja alumni FPIPS UNM angkatan 1980 yang dahulu merupakan mantan pacar Benny, kini telah menjadi belahan jiwa setianya. Menikah pada tahun 1985, bahtera hidup mereka telah dianugerahi empat orang anak dan lima orang cucu.

Terdampar di Masalembo, Berlabuh di Makassar

Sambil menikmati kopi hangat hotel, saya mulai mengorek kisah masa lalu Benny. Bagaimana mungkin seorang pemuda asal Jawa bisa terdampar dan akhirnya “berlabuh” mengakar di Kota Makassar?

Kisah Benny adalah sebuah epik petualangan. Dia merupakan alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta tahun 1974. Pada Desember 1975, dengan dada penuh ambisi muda, Benny memutuskan merantau. Tujuan utamanya sangat jauh: Sydney, Australia. Ia berniat bertolak dari Surabaya menuju Merauke, Papua, menumpang Kapal Motor (KM) Meratus, dengan harapan dari Merauke ia bisa menyeberang menuju tanah Aborigin. Di sana, seorang rekan sesama alumni SSRI Yogyakarta jurusan seni ukir tulang telah menantinya.

Namun, manusia hanya bisa merajut rencana, sementara takdir memegang guntingnya. Di tengah pelayaran dari Surabaya, badai dan ombak besar di sekitar Perairan Masalembo menghantam KM Meratus hingga menyebabkan kerusakan mesin yang parah. Tepat pada hari Natal, 25 Desember 1975, kapal terpaksa berbelok dan transit untuk berlindung di Pelabuhan Paotere, Ujungpandang (Makassar).

Baca Juga :  Dankodaeral VI Salurkan Tali Asih Pemberian Kepala Staf Angkatan Laut ke Panti Asuhan Sejati Muhammadiyah Makassar

Sang Kapten Kapal memperkirakan perbaikan mesin memakan waktu sekitar dua hari. Ia menyarankan seluruh penumpang untuk turun menghirup udara daratan. Benny pun melangkah turun membawa ranselnya. Ia berjalan menyusuri pusat Kota Ujungpandang dan memutuskan beristirahat sekaligus bermalam di Panggung Upacara yang ada di Lapangan Karebosi selama dua malam.

Ketika dua hari berselang dan Benny kembali ke Pelabuhan Paotere dengan niat melanjutkan mimpi ke Papua, jantungnya berdegup kencang. Harapannya pupus seketika. KM Meratus ternyata telah angkat sauh lebih cepat, berlayar meninggalkan pelabuhan menuju Ambon dan terus ke Papua. Benny tertinggal.

Tanpa uang yang cukup, tanpa sanak saudara, dan sebatang kara di kota asing yang sama sekali belum dikenalnya, kecemasan menggelayuti benak Benny. Ia terpaksa melangkah gontai, berjalan kaki kembali menuju Lapangan Karebosi. Di sana, ia melewatkan malam-malam penuh ketidakpastian hingga tanggal 30 Desember 1975, menyaksikan warga kota bersukacita menyambut malam pergantian tahun baru 1975 ke 1976.

Berkah di Balik Ransel Usang

Di tengah kepasrahan pada akhir Desember tersebut, hujan lebat yang mengguyur Kota Ujungpandang mulai mereda. Di bawah keremangan kota, Benny membuka ransel usangnya. Di dalam sebuah map ijazah, ia menemukan selembar kartu nama lama milik seniornya sesama alumni Seni Rupa IKIP Yogyakarta: Bapak Sumardi Priyonggoko, BA dan Ibu Sri Marhen Sakti, BA. Pasangan suami istri tersebut ternyata bertugas sebagai guru di SMA Katolik Jalan Cendrawasih sekaligus dosen Seni Rupa FKSS IKIP Ujungpandang.

​Seolah mendapat kompas baru, Benny berjalan kaki dari Lapangan Karebosi menuju SMA Katolik di Jalan Cendrawasih. Tepat saat jam berdentang menunjukkan pukul 00.00, di tengah pergantian tahun, Benny berhasil mengetuk pintu rumah Bapak Sumardi. Pertemuan malam itu mengubah total garis hidupnya. Benny dilarang melanjutkan petualangan nekatnya ke Australia.

“Tidak usah lanjut ke Aborigin, kuliah saja di Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Ujungpandang,” kenang Benny menirukan nasihat Ibu Sri Marhen Sakti kala itu.

Benny patuh. Ia mendaftar, lolos ujian, dan resmi menjadi mahasiswa Seni Rupa FKSS IKIP Ujungpandang angkatan 1976—ruang kelas yang sama yang mempertemukannya dengan saya. Jalur akademisnya melesat tajam: meraih gelar Sarjana Muda (1979), menyelesaikan Strata 1 (1984), hingga merengkuh gelar Magister (S2) di Pascasarjana ISI Yogyakarta (2003).

Lelaki yang dahulu terdampar di Karebosi itu menjelma menjadi akademisi tangguh. Sejat tahun 1979, ia mengabdi sebagai laboran sekaligus staf pengajar (dosen) di Fakultas Seni dan Desain (FSD) UNM, FIP UNM, Pascasarjana UNM, Universitas Terbuka, Unismuh, Universitas Bosowa, hingga UIN Alauddin Makassar. Mata kuliah teoritis dan praktis dikuasainya secara paripurna, mulai dari Sejarah Seni Rupa Indonesia, Manajemen Pameran, hingga praktikum Sketsa, Seni Patung, Batik, dan Ilustrasi Komik. Setelah mencetak ribuan sarjana, Benny akhirnya memasuki masa purnabakti pada tahun 2019 silam.

Malam makin larut di Ballroom Lotus B, namun kehangatan di meja kami justru kian membara. Kisah kapal rusak di Masalembo setengah abad lalu itu kini terasa seperti skenario suci. Jika malam itu KM Meratus tidak rusak, LPM Profesi mungkin tidak akan pernah memiliki logo ikonik yang bertahan 50 tahun, ratusan mahasiswa Makassar tidak akan pernah mendapat ilmu dari seorang dosen hebat, dan saya, Ardhy M. Basir, tidak akan pernah mencicipi indahnya pelukan persahabatan setengah abad malam ini.

LPM Profesi UNM sukses merayakan hari jadinya yang ke-50. Namun bagi kami berdua, malam itu adalah perayaan atas takdir hidup yang luar biasa. Selamat ulang tahun emas, Profesi! Terima kasih telah memanggil kami pulang.

Oleh: Ardhy M. Basir 

Makassar, 07 Juli 2026

Berita Terkait

Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik
Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan
Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar
Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas
Pancasila dan Religiolinguistik: Rekonsiliasi Teologis-Kebangsaan
Pancasila, Cahaya Batin Republik di Tengah Riuh Zaman yang Gelisah

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:46 WIB

Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:50 WIB

Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik

Senin, 8 Juni 2026 - 20:26 WIB

Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan

Senin, 8 Juni 2026 - 16:31 WIB

Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:59 WIB

Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

Berita Terbaru

Makassar

Ketua IPWI Bersedia jadi Mitra Strategis BAZNAS Makassar

Jumat, 10 Jul 2026 - 20:23 WIB

Makassar

Pimpinan BAZNAS Makassar dan Staff aksi Bersih Bersih

Jumat, 10 Jul 2026 - 10:49 WIB