MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Mahasiswa Asistensi Mengajar Berdampak Mandiri dari Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Makassar (UNM) harus mematuhi peraturan dan tata tertib yang berlaku di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Makassar.
Penegasan itu disampaikan Kepala SMAN 3 Makassar, Drs. Andi Mappawekke, M.Pd. yang didampingi Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Muhammadong, S.Pd., M.Pd. dan Guru Mata Pelajaran Ekonomi, Reny Pratiwi Putri, S.Pd. ketika menyambut dan menerima sebanyak empat orang mahasiswa Program Asistensi Mengajar Berdampak Mandiri didampingi dua orang Dosen Pendamping Lapangan pada Kamis, 21 Agustus 2026, di Ruang Kerja Kepala Sekolah.
“Para mahasiswa harus bersosialisasi di lingkungan sekolah, baik dengan pimpinan, guru, staf administrasi, maupun siswa. Sosialisasi ini sangat penting agar dapat terjalin komunikasi dan interaksi yang baik sehingga program yang dilaksanakan berjalan lancar,” harapnya.
Lanjut, ia mengharapkan pula agar setiap mahasiswa harus menguasai materi pembelajaran yang akan diajarkan. Jangan mengajar kalau tidak siap, terutama penguasaan materi. Penguasaan materi jadi kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran.
“Sata juga minta kalau di kelas, jangan seperti team teaching, semua berada di depan. Jadi, ada satu orang di depan, satu orang di belakang, dan satu orang di luar. Bagi-bagi tugas,” jelasnya.
Sementara itu, dosen FEB UNM yang ditugaskan sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL), yaitu Eliza Junita A., S.E., M.Pd. dan Hasana Hakim, S.Pd., M.Pd. dan peserta Asistensi Mengajar Berdampak Mandiri, yaitu Hijriah, Atira, Isnawati, dan Salwa Al Aura Pratiwi.
Dalam sambutannya, Eliza Junita menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Kepala SMAN 3 Makassar beserta pimpinan dan guru atas perkenan menerima mahasiswa untuk melaksanakan program Asistensi Mengajar. Apalagi kami disambut dengan penuh antusias.
Dosen Prodi Pendidikan Ekonomi menjelaskan bahwa asistensi mengajar adalah mata kuliah yang diprogramkan bagi mahasiswa kependidikan dan kelak akan jadi guru di sekolah. Karena itu, sebelum jadi guru, mahasiswa perlu dibekali modal kompetensi dan keterampilan mengajar.
“Di kampus, mahasiswa telah dibekali teori kompetensi mengajar dan pembelajaran. Melalui program ini, mahasiswa dibekali pengalaman nyata di sekolah. Pengalaman itu akan berguna mengenal dan memahami lingkungan pendidikan di sekolah,” ungkapnya.
Dalam program ini, mahasiswa akan menjalankan kegiatan akademik dan non-akademik. Mahasiswa juga wajib mengikuti kegiatan intra dan ekstrakurikuler siswa. Kegiatan ini berlangsung 3-4 bulan yang setara 1 semester dengan bobot 20 SKS.
Kami berharap, kata Eliza Junita, pihak sekolah dan para guru dapat membina dan membimbing para mahasiswa. Kami juga berharap dapat memberi penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan selama berada di sekolah. (Ans/Why)


























