Hj.Dwiana Pamuji Astuti bersama walikota di lokasi kebakaran.
Makassar, Kabar PROFESIANA,co,id:
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Makassar, Hj. Dwiana Pamuji Astutik, S.M., S.H mengunjungi korban kebakaran di Jalan Sultan Alauddin 3, tepatnya di RT 001, RW 005, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, Kamis, 18 Juni 2026. Pasalnya, kebakaran yang mengakibatkan 21 kepala keluarga yang terdiri dari 113 jiwa terdampak mengisahkan duka mendalam.
Hj.Dwiana Pamuji Astutik mengemukakan, meski kebakaran yang terjadi akibat arus pendek, Rabu, 17 Juni 2026 itu terjadi di wilayah hukum Kecamatan Tamalate, namun sebagai warga Kota Makassar tentunya memiliki rasa simpati kepada para korban.
Langkah Ketua PMI Kecamatan Makassar, Hj.Dwiana di lokasi kebakaran, seakan secercah cahaya di tengah kegelapan. Ini adalah bukti bahwa semangat kemanusiaan yang berlandaskan kasih sayang—sebagaimana ajaran Rahmatan lil ‘Alamin—tetap hidup subur di kota yang kini dipimpin Walikota dan Wakil Walikota—Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ini.
“Kita ketahui bersama bahwa, menolong korban kebakaran itu tidak semata tentang menyerahkan sumbangan, melainkan mendatangi mereka untuk memberikan semangat juga merupakan bentuk pertolongan,” tuturnya.
Apalagi jelasnya, musibah kebakaran yang melanda pemukiman warga, bukan sekadar peristiwa kehilangan materi, melainkan ujian kesabaran bagi mereka yang tertimpa.
Kehadiran Hj.Dwiana juga bersamaan kunjungan Walikota Makassar Munafri Arifuddin dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar di tengah puing-puing yang tersisa dan aroma asap yang masih menyengat merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai luhur Islam.
Alasannya jelas dalam pandangan Islam, mendatangi orang yang sedang dirundung musibah adalah amalan yang kedudukannya sangat Mulia. Langkah inilah adalah bentuk nyata dari pengamalan yang bertitik tumpu pada sebuah “dakwah perbuatan” (dakwah bil hal).
“Kalau kita menyaksikan sendiri orang yang dilanda kesusahan, itu sebagai penanda bahwa orang itu sedang menjalankan fungsi khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain),” ujarnya.
Sebelum menutup komentarnya, Dwiana mengaku sebagai warga Nahdliyin, dirinya melihat dalam tradisi pemikiran Nahdlatul Ulama (NU), kemanusiaan bukanlah sekadar jargon, melainkan pengejawantahan dari iman. Ketika sebuah musibah seperti kebakaran melanda, maka warga Nahdliyin diajarkan untuk tidak sekadar “berempati dari jauh”, melainkan bergerak dengan prinsip ta’awun (tolong-menolong), meski datang menyapa mereka, atau apa yang disebut dimensi tasliyah. (din pattisahusiwa)


























