Makassar, Sulawesi Selatan, (KabarPROFESIANA.co.id)— Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan program bertajuk “Pendampingan Monitoring Variabilitas Denyut Jantung dan Analisis Beban Latihan Berbasis AI untuk Peningkatan VO₂max pada Komunitas Kebugaran Bibit Indonesia.” Program Kemitraan Masyarakat yang didanai melalui PNBP Pusat Kompetitif tahun 2026 ini diketuai oleh Dr. Fatoni, S.Pd., M.Pd., bersama Mohammad Fandi Kurnia, S.Si., M.Si., Dr. St. Zulaiha Nurhajarurahmah, S.Pd., M.Pd., dan Muhammad Isnawan Syafir, S.Pd., M.Pd., serta melibatkan mahasiswa sebagai anggota tim.
Kegiatan ini menyasar Komunitas Kebugaran Bibit Indonesia, komunitas yang rutin melakukan aktivitas lari bersama di kawasan Stadion Mattoanging, Makassar. Komunitas tersebut memiliki 65 anggota aktif dengan rentang usia 20-25 tahun dan mayoritas berlatih tiga hingga empat kali dalam seminggu.
Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa 72 persen anggota masih menentukan intensitas latihan berdasarkan persepsi rasa lelah, sedangkan sekitar 64 persen telah menggunakan smartwatch atau aplikasi lari tetapi penggunaannya lebih banyak terbatas pada pencatatan jarak dan pace.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tim PKM karena penggunaan teknologi kebugaran belum sepenuhnya diikuti kemampuan menginterpretasikan data fisiologis. Lebih dari 60 persen anggota belum pernah memperoleh edukasi mengenai pengelolaan beban latihan dan prinsip progresivitas. Selain itu, perencanaan latihan belum menggunakan parameter individual seperti zona denyut jantung dan heart rate variability (HRV), sementara evaluasi adaptasi latihan melalui VO₂max serta analisis beban latihan juga belum dilakukan secara sistematis.
Melalui program PKM ini, tim UNM memperkenalkan pendekatan latihan yang mengintegrasikan fisiologi olahraga, perangkat wearable, HRV, dan analitik berbasis Artificial Intelligence (AI). Program mencakup edukasi fisiologi latihan, pelatihan penggunaan perangkat monitoring denyut jantung, pengenalan HRV dan zona latihan, pengumpulan data latihan selama delapan minggu, serta analisis adaptif untuk menghasilkan rekomendasi intensitas dan volume latihan sesuai respons fisiologis individu. AI dalam program ini ditempatkan sebagai decision support system yang membantu komunitas mengambil keputusan latihan secara lebih objektif.
Ketua tim PKM, Dr. Fatoni, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diharapkan mengubah kebiasaan latihan yang semula banyak mengandalkan rasa lelah, jarak, dan kecepatan menjadi latihan berbasis respons biologis tubuh. Data denyut jantung, HRV, durasi, frekuensi latihan, serta estimasi VO₂max diolah melalui dashboard analitik sehingga perkembangan kebugaran dapat dipantau secara lebih terukur. Teknologi yang diterapkan mengintegrasikan wearable heart rate monitor, aplikasi pengumpul data, dan dashboard analitik adaptif berbasis AI.
Selain penerapan teknologi, kegiatan PKM memberikan perhatian besar pada peningkatan literasi fisiologi latihan anggota komunitas. Materi pelatihan meliputi prinsip fisiologi latihan aerobik dan adaptasi kardiovaskular, penentuan denyut jantung maksimal dan zona latihan, HRV sebagai indikator kesiapan dan pemulihan, progresivitas beban latihan, hingga praktik penggunaan perangkat wearable dan pembacaan dashboard. Pelatihan dilakukan melalui ceramah interaktif, demonstrasi, simulasi, dan praktik langsung dalam sesi lari komunitas.
“Jadi Program ini menargetkan sedikitnya 75 persen anggota menggunakan perangkat wearable dalam monitoring latihan dan minimal 70 persen anggota mampu berlatih sesuai zona denyut jantung yang direkomendasikan. Selain itu, tim menargetkan peningkatan rata-rata estimasi VO₂max minimal 10 persen, peningkatan skor literasi kebugaran minimal 30 persen, serta terbentuknya sedikitnya dua kader komunitas yang mampu mengelola monitoring fisiologis secara mandiri,”ungkap Dr. Fatoni, S.Pd., M.Pd
Dengan indikator tersebut, keberhasilan program tidak hanya dinilai dari penggunaan teknologi, tetapi juga dari perubahan pengetahuan, perilaku latihan, dan kapasitas pengelolaan komunitas.
Melalui kolaborasi UNM dan Komunitas Kebugaran Bibit Indonesia, kegiatan PKM ini diharapkan menjadi model pembinaan kebugaran masyarakat yang aman, ilmiah, terukur, dan berkelanjutan.
Keberlanjutan program diperkuat melalui pembentukan kader internal, penyusunan modul dan SOP latihan berbasis zona denyut jantung, serta penggunaan dashboard secara rutin setelah pendampingan berakhir. Program tersebut sekaligus mendukung SDGs Tujuan 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, penerapan inovasi teknologi tepat guna perguruan tinggi, serta penguatan literasi digital dan kebugaran masyarakat. (Why/Ans)


























