Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku : Kematangan Psikologis Sebagai Fondasi Toleransi

- Penulis

Rabu, 24 Desember 2025 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surah Al-Kāfirūn sering dipahami sebagai deklarasi teologis yang tegas, namun sesungguhnya jika dilihat pada ayat terakhirnya “Lakum dīnukum wa liya dīn” (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku) memuat pesan psikologis yang mendalam tentang etika toleransi. Ayat ini tidak semata-mata pemisahan akidah, tetapi penegasan batas identitas yang sehat. Dalam psikologi, kemampuan menetapkan batas “what is me and what is not me” (psychological boundaries) merupakan ciri kedewasaan mental yang memungkinkan individu hidup berdampingan tanpa kehilangan jati diri (Cloud & Townsend, 2017).

Hakikatnya toleransi tidak bisa dipandang sebagai relativisme keyakinan, melainkan buah dari kematangan ego. Eri Erikson dalam bukunya Identity: Youth and Crisis menjelaskan bahwa individu yang telah mencapai tahap (identity achievement) akan mampu menghargai perbedaan tanpa merasa terancam. Surah Al-Kāfirūn mencerminkan fase ini. Secara aplikatif Nabi Muhammad Saw tidak menunjukkan sikap defensif atau agresif, melainkan memperlihatkan keteguhan yang tenang sebagai sebuah ciri ego strength yang sangat matang.

Konflik antaragama sering dipicu oleh identity threat, yakni perasaan bahwa keyakinan diri terancam oleh keberadaan pihak lain. Menariknya, Surah Al-Kāfirūn justru meniadakan ancaman tersebut. Jadi dengan mengatakan “agamamu untukmu,” sesungguhnya Islam mengajarkan pelepasan kontrol terhadap keyakinan orang lain. Sikap ini secara psikologis menurunkan kecemasan kolektif dan mencegah eskalasi konflik berbasis prasangka.

Baca Juga :  Rektor UNM dan Bupati Sinjai Teken Nota Kesepahaman, Kata Prof Karta : UNM Sebagai Pemantik

Toleransi yang sehat lahir dari rasa penerimaan diri (self-acceptance). Rogers menegaskan bahwa individu yang menerima dirinya secara utuh tidak membutuhkan dominasi atas orang lain. Ayat terakhir Surah Al-Kāfirūn mencerminkan penerimaan eksistensial tersebut: Islam tidak memerlukan validasi dari agama lain, dan karenanya tidak merasa perlu meniadakan keberadaan mereka.

Lebih jauh lagi bahwa toleransi menuntut cognitive differentiation kemampuan membedakan antara menghormati dan menyetujui. Banyak konflik lahir karena bias berpikir hitam-putih (black-and-white thinking). Surah Al-Kāfirūn justru mengajarkan diferensiasi yang jernih: perbedaan keyakinan diakui tanpa harus disamakan. Ini selaras dengan konsep integrative complexity yang menurut Tetlock  menjadi indikator kecerdasan sosial dan moral.

Pargament (2007) menyatakan bahwa religiusitas yang matang bersifat secure, bukan defensive. Individu yang imannya aman tidak mudah tersulut oleh perbedaan. Surah Al-Kāfirūn menampilkan religiusitas aman tersebut: tidak ada celaan, tidak ada ancaman, hanya kejelasan posisi. Inilah fondasi psikologis toleransi yang beradab tegas dalam iman, lembut dalam relasi sosial.

Ayat ini juga mengajarkan komunikasi yang non-konfrontatif. Nabi Muhammad SAW tidak membalas ajakan kompromi akidah kaum Quraisy dengan kemarahan, tetapi dengan penegasan berulang yang konsisten. Teori assertive communication menjelaskan bahwa ketegasan yang disampaikan tanpa agresi justru meningkatkan respek interpersonal (Alberti & Emmons, 2017). Inilah yang menjadikan Surah Al-Kāfirūn relevan sebagai model komunikasi lintas iman.

Baca Juga :  Jangan Paksa Anak “Langsung Bisa”: Memahami Transisi PAUD ke SD yang Ramah Anak

Dalam konteks masyarakat majemuk modern, pesan psikologis Surah Al-Kāfirūn menjadi sangat aktual. Toleransi sering disalahpahami sebagai pencairan identitas, padahal secara psikologis, identitas yang cair justru rentan terhadap kecemasan dan radikalisasi. Ayat ini menegaskan bahwa batas yang jelas adalah prasyarat kedamaian sosial. Sebagaimana ditegaskan dalam psikologi sosial bahwa prasangka menurun bukan ketika identitas dihapus, tetapi ketika interaksi terjadi dalam kerangka saling menghormati.

Oleh karena itu, “Untukmu agamamu, untukku agamaku” adalah sebuah pernyataan yang menunjukkan adanya sikap kematangann psikologis dan spiritual bagi penganut islam. Ia mengajarkan bahwa toleransi sejati lahir dari iman yang matang, bukan iman yang rapuh. Dalam bahasa psikologi, Surah Al-Kāfirūn membimbing umat menuju secure religious identity sebuah fondasi penting bagi harmoni sosial di tengah keberagaman. Keteguhan iman dan etika toleransi bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua wajah dari kematangan jiwa. (*)

Penulis Opini : Ahmad Razak/Dosen Fakultas Psikologi UNM

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada
Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat
Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik
Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan
Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar
Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:08 WIB

Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:46 WIB

Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:50 WIB

Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik

Senin, 8 Juni 2026 - 20:26 WIB

Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan

Senin, 8 Juni 2026 - 16:31 WIB

Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

Berita Terbaru