Sumpah Pemuda ke-98: Membumikan Cinta Bahasa Indonesia, Meneguhkan Kedaulatan Bangsa

- Penulis

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Mahmudah, M.Hum., Ketua PW ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar Mahmudah.mahfud@unm.ac.id

 

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ikrar itu bukan sekadar pernyataan kebahasaan, melainkan keputusan bersejarah untuk menyatukan bangsa dalam keberagaman suku, budaya, dan bahasa. Bahasa Indonesia menjadi jembatan persatuan sekaligus landasan membangun masa depan bersama.

Kini, pada peringatan Sumpah Pemuda ke-98, kita perlu bertanya: ”Sudahkah kecintaan terhadap bahasa Indonesia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?”

Kecintaan itu harus tampak dalam mutu informasi yang diterima masyarakat luas.

Hampir satu abad setelah ikrar tersebut, tantangan kita semakin kompleks. Informasi beredar cepat melalui media sosial, berita digital, dan berbagai teknologi, termasuk Akal Tiruan. Informasi dapat dibuat dan dibagikan dalam hitungan detik. Namun, informasi yang menarik belum tentu akurat, sebagaimana bahasa yang tampak meyakinkan belum tentu menyampaikan kebenaran. Oleh karena itu, cinta bahasa Indonesia perlu dibumikan melalui tindakan sederhana: memilih kata secara tepat, menyampaikan informasi secara cermat, dan memeriksa kebenaran sebelum membagikannya. Semangat ini sejalan dengan tema Bulan Bahasa 2026, “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat”.

Bahasa Bermartabat Dimulai dari Kata yang Tepat

Bahasa Indonesia memiliki perangkat normatif, antara lain Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI Daring, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat, serta kamus istilah dan glosarium teknis. Perangkat tersebut menjadi rujukan untuk menggunakan bahasa secara tepat. Namun, ketersediaan pedoman belum menjamin penerapannya secara konsisten.

Perhatikan kata respons. Dalam komunikasi publik, kata ini terkadang ditulis respon, padahal bentuk bakunya adalah respons. Perbedaan sederhana ini mengingatkan kita untuk memeriksa kata sebelum menyebarkan informasi.

Ketepatan bahasa bukan hanya persoalan ejaan dan tata kalimat, tetapi juga menentukan apakah konsep, data, dan pesan dipahami dengan benar. Mencintai bahasa Indonesia berarti memilih kata yang tepat, menjelaskan maksud dengan jernih, dan tidak menutupi fakta.

Belajar Kritis dari Infografis

Tantangan ketepatan bahasa semakin nyata dalam infografis berita. Informasi disajikan melalui perpaduan tulisan, angka, foto, peta, warna, dan grafik. Namun, tampilan menarik tidak otomatis menjamin ketepatan informasi.

Baca Juga :  Jati Diri Bahasa Indonesia di Tengah Ledakan Akal Tiruan

Dalam The 1st International Conference on Language, Literature, and Culture Education (ICILLCE) 2026, yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar, pada 26–27 Oktober 2026, saya mempresentasikan artikel berjudul “Pemartabatan Bahasa Indonesia dalam Infografis Berita pada Era Akal Tiruan: Analisis Multimodal dan Audit Ketepatan Informasi”. Artikel tersebut mengangkat pentingnya memeriksa keselarasan bahasa, gambar, dan angka dalam infografis berita lingkungan hidup dan kebencanaan.

Pembaca perlu mencermati bukan hanya judul dan angka, melainkan juga keterangan, kategori, sumber, serta konteks. Misalnya, dalam informasi kebencanaan, istilah terdampak, mengungsi, dan penerima layanan menunjukkan kategori yang berbeda. Ketiganya tidak boleh dipertukarkan hanya demi menyederhanakan infografis. Jika kategori tidak dijelaskan secara tepat, masyarakat dapat keliru memahami siapa yang terdampak, siapa yang mengungsi, dan siapa yang menerima bantuan.

Contoh itu memperlihatkan bahwa ketepatan bahasa berkaitan langsung dengan kualitas informasi publik. Tulisan dan gambar perlu dibaca sebagai satu kesatuan. Angka yang ditampilkan besar tidak otomatis benar, foto yang meyakinkan tidak otomatis membuktikan klaim, dan desain profesional tidak menggantikan pemeriksaan fakta.

Akal Tiruan dapat menghasilkan teks dan visual dengan cepat, tetapi kecepatan tidak menjamin ketepatan. Sumber harus diperiksa, istilah digunakan konsisten, dan setiap klaim dipertanggungjawabkan. Teknologi membantu manusia, tetapi tidak menghapus tanggung jawabnya.

Empat Kebiasaan Kecil, Dampak Besar

Semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui empat kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan siapa pun.

Pertama, periksa pilihan kata. Gunakan KBBI untuk memeriksa makna dan bentuk baku kata, EYD untuk memastikan ejaan, serta kamus istilah untuk memahami istilah teknis. Ketepatan berbahasa bukan hanya urusan ahli, melainkan tanggung jawab setiap pengguna bahasa.

Kedua, baca gambar secara kritis. Perhatikan judul, angka, keterangan, dan sumber informasi. Jangan mudah percaya hanya karena infografis tampak menarik atau dibagikan banyak orang.

Ketiga, pastikan tulisan dan gambar selaras. Periksa apakah judul sesuai dengan data dan apakah keterangan menjelaskan angka yang ditampilkan. Penyederhanaan informasi tidak boleh mengubah makna atau menghilangkan fakta penting.

Baca Juga :  Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur: Perempuan Berkemajuan Mengawal Kemerdekaan melalui Amal Nyata ‘Aisyiyah

Keempat, periksa sebelum membagikan. Telusuri sumber, tanggal, satuan, dan konteks informasi. Jika kebenarannya belum dapat dipastikan, jangan terburu-buru menyebarkannya sebagai fakta.

Kebiasaan ini dapat dimulai di rumah, sekolah, kampus, organisasi, dan tempat kerja. Guru dapat mengajak peserta didik memeriksa infografis, mahasiswa menelaah berita digital, dan masyarakat membaca informasi secara cermat sebelum meneruskannya. Dengan demikian, Bulan Bahasa menjadi ruang praktik literasi, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Dari Bahasa yang Benar Menuju Kemaslahatan Dunia

Cinta bahasa Indonesia tidak berhenti pada kebanggaan terhadap bahasa persatuan. Cinta itu harus menghasilkan manfaat bagi kehidupan manusia. Bahasa yang cermat membantu menyampaikan ilmu, meluruskan kesalahpahaman, merawat perdamaian, dan membangun kepercayaan. Sebaliknya, bahasa yang mengaburkan fakta dapat memicu prasangka, memperlebar perbedaan, dan merugikan masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai rahmatan lil-‘alamin, yakni menghadirkan rahmat bagi seluruh alam, serta cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yaitu kehidupan negeri yang baik dan berorientasi pada kebaikan. Keduanya membawa pesan universal yang melampaui batas agama, bangsa, dan golongan: membangun kehidupan yang damai, adil, beradab, serta memberi kemaslahatan bagi seluruh manusia.

Bahasa Indonesia dapat berkontribusi melalui penyebaran pengetahuan yang benar, komunikasi inklusif, penghormatan terhadap keberagaman, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Kemajuan tidak cukup diukur dari kecepatan menghasilkan informasi, tetapi juga dari kebenaran, keadilan, dan manfaatnya bagi kehidupan bersama.

Pada peringatan Sumpah Pemuda ke-98, patriotisme perlu diwujudkan melalui tindakan nyata: memilih kata secara tepat, membaca informasi secara kritis, dan memeriksa fakta sebelum menyebarkannya. Bahasa Indonesia bukan hanya simbol persatuan, melainkan sarana membangun peradaban yang menghargai martabat manusia.

Mari membumikan cinta bahasa Indonesia melalui setiap kata yang kita tulis, setiap gambar yang kita bagikan, dan setiap fakta yang kita pertanggungjawabkan. Sebab, bahasa yang bermartabat bukan hanya memperkuat kedaulatan bangsa, melainkan juga membuka jalan bagi pengetahuan, perdamaian, dan kemaslahatan seluruh umat manusia. (*)

Berita Terkait

Bahasa Indonesia Kebanggaan Kita, Kekuatan Bangsa
Bahasa Indonesia Bermartabat, Kepemimpinan Global di Era Akal Tiruan
98 Tahun Sumpah Pemuda: Dari Ketahanan Bahasa menuju Kedaulatan Akal Tiruan
Saatnya Indonesia Menguasai Data Bahasa: Jalan Strategis Menuju Kedaulatan Pengetahuan dan Kepemimpinan Global
Menata Istilah, Membangun Pengetahuan, Menguasai Masa Depan (Strategi Politik Bahasa Indonesia Menuju Kedaulatan Pengetahuan di Era Akal Tiruan)
KBBI Berdaulat: Mesin Pengetahuan untuk Akal Tiruan Indonesia
Bahasa Baku, Akal Tiruan, dan Darul Ahdi wasy-Syahadah
JANGAN BIARKAN INDONESIA DIPAHAMI MESIN DENGAN BAHASA ORANG LAIN (Membangun Kedaulatan Bahasa Indonesia di Era Akal Tiruan)

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:13 WIB

Sumpah Pemuda ke-98: Membumikan Cinta Bahasa Indonesia, Meneguhkan Kedaulatan Bangsa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:39 WIB

Bahasa Indonesia Kebanggaan Kita, Kekuatan Bangsa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:42 WIB

Bahasa Indonesia Bermartabat, Kepemimpinan Global di Era Akal Tiruan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:36 WIB

98 Tahun Sumpah Pemuda: Dari Ketahanan Bahasa menuju Kedaulatan Akal Tiruan

Rabu, 30 September 2026 - 18:45 WIB

Saatnya Indonesia Menguasai Data Bahasa: Jalan Strategis Menuju Kedaulatan Pengetahuan dan Kepemimpinan Global

Berita Terbaru